Episode 16: Lingkaran yang Terputus?
Chapter 3: Perang Modern di Lantai Bursa
Lokasi: Menara Garam-Mahkota, Koridor & War Room
Waktu: Siang Hari
Jantung Sekar berdegup kencang di balik setelan jasnya. Efek tinnitus—suara dengung melengking tinggi—mendadak kembali terdengar samar, mengiris gendang telinganya dan membawa aura panik dari masa lalu.
Pintu kantornya tiba-tiba diketuk dari luar dengan sangat terburu-buru, tanpa etiket. Bimo menerobos masuk dengan wajah pucat pasi. Ia memegang sebuah tablet digital pelacak pasar saham global yang layarnya berkedip-kedip merah intens.
"Ibu Sekar... maafkan saya mendobrak masuk, kita dalam masalah kolosal," lapor Bimo dengan suara gemetar, kehilangan ketenangan elegannya. "Seseorang—sebuah entitas dana tak terlihat—baru saja melakukan operasi short-selling massal terhadap saham utama Garam-Mahkota Group di Bursa Efek Indonesia, Wall Street, dan Singapura secara serentak... hanya dalam lima menit terakhir! Cadangan likuiditas utama kita tersedot empat puluh triliun rupiah dan terus bertambah!"
Tanpa banyak bicara, Sekar yang kini berusia 49 tahun langsung bangkit. Ia melangkah sangat cepat dengan wibawa mematikan membelah lorong kaca menara. Di belakangnya, Bimo dan tim elit analis finansial berlari kecil menyusul, memeluk tablet digital yang terus menampilkan grafik saham yang menukik memerah layaknya lautan darah.
"Mereka tidak cuma menyerang dengan short-selling, Ibu Sekar!" seru Bimo di lorong dengan napas terengah-engah. "Sistem intelijen kita melacak bahwa entitas misterius ini, yang menggunakan pola transaksi agresif ala Haikal Mahkota dari masa lalu, menggunakan jaringan pasar gelap dark pool untuk membanjiri bursa dengan dokumen rahasia. Mereka menyebar rumor dan bukti otentik bahwa Ibu terlibat manipulasi laporan keuangan masif selama krisis 2008. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan SEC Amerika sedang bersiap membekukan total seluruh perdagangan saham kita!"
Sekar langsung menerobos pintu geser otomatis dan masuk ke dalam War Room—pusat kendali trading rahasianya yang dipenuhi puluhan monitor raksasa yang menutupi seluruh dinding.
"Bimo, kunci posisi seluruh sisa likuiditas kita di Bank BAM sekarang juga!" perintah Sekar dengan suara lantang yang menggelegar, mengambil alih pimpinan komando tempur. "Siapkan dana talangan perang sebesar lima puluh triliun rupiah. Lakukan buyback massal secara agresif di harga terendah pasar saat ini. Kita jepit posisi short mereka dari bawah sampai para bajingan tak terlihat itu mengalami short squeeze (kerugian margin) terparah dalam sejarah Asia!"
Suasana di dalam ruangan pusat kendali itu seketika menjadi sangat gila dan panik. Puluhan trader elit berteriak dan jari-jari mereka menari brutal di atas papan tik layaknya mengetik kode peluncuran rudal nuklir.
Grafik pergerakan nilai saham Garam-Mahkota di monitor raksasa tampak terus terjun bebas melampaui logika pasar, dari angka pembukaan yang stabil di 8.000 menukik tajam ke level 4.500 hanya dalam hitungan belasan menit, mengancam pailit seluruh kerajaannya. Namun, laju hancur itu mendadak tertahan dengan sangat keras, membentur 'dinding modal' raksasa perlindungan yang baru saja dilemparkan oleh perintah Sekar.
"Tahan dan kunci posisi buy di harga 4.500! Jangan mundur satu sen pun!" teriak Sekar yang berdiri di tengah ruangan, matanya berkilat liar penuh amarah, memancarkan gairah pertempuran psikopat yang sama saat ia dulu menghabisi Bambang. "Haikal... atau siapa pun kau penjelajah waktu yang bersembunyi di balik dana itu... kau pikir kau bisa memancing dan mengalahkan 'Tuhan' yang sudah menulis ulang masa depan ini?!"
Tepat ketika garis grafik saham mulai berbalik arah melengkung dan meroket naik dengan tajam, mematahkan serangan brutal entitas anonim tersebut dan memukul balik secara finansial... pintu kaca tebal War Room mendadak terbuka perlahan.
Di tengah hiruk-pikuk teriakan para trader yang merayakan titik balik kemenangan pasar, seorang petugas keamanan senior melangkah masuk ragu-ragu. Ia membawa sebuah baki perak berisi sepucuk amplop hitam kecil dan terlihat sangat usang, seolah sudah disimpan puluhan tahun. Amplop itu rupanya diantarkan oleh seorang kurir instan yang identitasnya tidak terlacak di kamera lobi bawah.