Kembali ke Daftar Isi

Episode 16: Lingkaran yang Terputus?

Chapter 2: Umpan Baru di Balik Meja

Lokasi: Menara Garam-Mahkota Group, Kantor Pribadi Sekar
Waktu: Tak Lama Kemudian

Sekar duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit Italia berkualitas tinggi. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantornya yang luar biasa luas dan senyap, mencoba mencerna kembali kemenangan seumur hidup dan identitas tunggalnya ini.

Namun, suasana hening dan nostalgik itu mendadak dirobek oleh ketegangan akut ketika ponsel pribadi satelit di atas mejanya—yang nomornya hanya diketahui oleh lima orang petinggi dunia—mendadak berdering kencang dari Private Number.

Sekar mengernyit. Ia menekan tombol speaker dan menjawab panggilan tersebut dengan waspada.

"Sekar Mahkota."

Suara di seberang telepon terdengar sangat berat, digital, dan mekanis, jelas sengaja disamarkan menggunakan alat pengubah suara tingkat tinggi (voice changer).

"Selamat pagi, Ibu Direktur Utama," sapa suara anonim itu. Nada bicaranya mengandung kekehan sangat dingin yang memicu alarm bahaya di kepala Sekar. "Kau mengira dengan memenangi perang masa lalu melawan Bambang Mahkota, dan menahan dokumen mematikan tahun 1987 itu, kau sudah berhasil menghentikan lingkaran setan takdir ini selamanya, Sekar?"

Mata Sekar langsung menajam seperti burung elang yang mengincar mangsa. "Siapa ini? Bagaimana kau bisa tahu soal dokumen 1987?"

Tawa digital dari seberang saluran terdengar meremehkan. "Arini yang asli memang sudah mati menua secara mental di dalam kepalamu, di lini masa ini. Tapi rupanya usia membuat insting monstermu tumpul, Sekar. Kau lupa satu hukum dasar fisika kuantum... Garam Capital bukan satu-satunya pihak yang mengetahui celah krisis milenium."

"Bicara yang jelas," desis Sekar.

"Seseorang dari pusaran masa depan baru saja mendarat di tahun 2026 ini bersamamu," ancam suara itu dengan presisi mutlak. "Dan tebak? Orang ini memegang salinan utuh seluruh portofolio bursa kotor yang pernah kau manipulasi dari tahun 2000 hingga 2008. Sejarah... baru saja berulang, Sekar."

Klik. Sambungan telepon terputus sepihak secara tiba-tiba.