Kembali ke Daftar Isi

Episode 16: Lingkaran yang Terputus?

Chapter 1: Bayangan Dua Puluh Lima Tahun di Puncak Kekuasaan (Tahun 2026)

Lokasi: Menara Garam-Mahkota Group, Jakarta
Waktu: Tahun 2026

Layar menceritakan kilasan cepat (montase) perjalanan hidup sang Ratu Korporasi pasca-kemenangan mutlaknya di RUPS berdarah tahun 2001.

Arini dengan tangan besinya berhasil membesarkan Garam-Mahkota Group hingga menjadi raksasa monopoli tak tertandingi di Asia Tenggara. Ia menelan seluruh pesaing bisnis, dan dengan sangat kejam membersihkan sisa-sisa loyalis lama dari faksi anak sulung dan faksi kedua hingga ke akar-akarnya.

Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya angka triliunan di rekeningnya, wajah Arini perlahan semakin mengeras dan kehilangan kemanusiaannya. Ia hidup dalam bayang-bayang paranoid, terisolasi kesepian di puncak menara menatap langit Jakarta. Diam-diam, ia dihantui oleh rasa bersalah yang kelam atas kematian tragis ibu kandungnya di masa lalu, serta pengorbanan Jaksa Mita yang rela menghancurkan karir bersihnya sendiri demi membongkar aib keluarga Mahkota untuknya.

Tahun-tahun bergulir dengan cepat layaknya lembaran kalender yang tertiup angin, menampilkan sosok Arini yang menua secara elegan namun menyembunyikan kekosongan mendalam di sorot matanya.

Hingga akhirnya... angka kalender digital di layar monitor berhenti pada sebuah tahun yang sangat ia kenal: 2026.

Flash!

Mata Sekar mendadak terbuka paksa lebar-lebar dengan napas memburu dan dada berdegup sangat kencang. Ia meraba dadanya dengan panik. Ia tidak merasakan aspal pelabuhan peti kemas yang dingin, atau rasa sakit yang membakar dari timah panas yang menembus jantungnya seperti di lini masa aslinya dahulu saat ia dikhianati dan dibunuh.

Ia terbangun dari lamunan panjang yang membingungkan. Ia kini mengenakan setelan jas eksekutif super mahal, berdiri di dalam sebuah ruangan kantor megah seluas lapangan bola, berlantai marmer di lantai teratas Menara Garam-Mahkota Group modern.

Kesadaran "Sekar" (sang fixer dari masa depan) akhirnya terbangun dan tersinkronisasi secara penuh dengan raga "Arini", yang kini telah menginjak usia matang 49 tahun.

Sekar menatap telapak tangannya sendiri yang bersih namun mulai dihiasi kerutan usia. Ia lalu berjalan perlahan ke arah cermin vertikal besar di sudut ruangannya. Wajah yang terpantul di cermin jernih itu adalah dirinya yang asli. Ingatan pahit selama dua puluh lima tahun menjadi penguasa bengis baru saja menyatu seutuhnya dengan ingatan brutal kematian tragisnya. Ia tidak mati, ia hanya melompat ke garis waktu yang telah ia ubah sendiri.

Bimo—yang kini terlihat jauh lebih tua dengan rambut yang sudah memutih di bagian pelipisnya—melangkah masuk ke ruangan membawa sebuah berkas tebal (komputer tablet) dengan sikap yang luar biasa hormat.

"Ibu Direktur Utama Sekar," sapa Bimo tenang, menggunakan nama resmi ('Sekar') yang secara misterius diumumkan Arini untuk dipakai sebagai nama resminya sejak ia mengkonsolidasi kekuasaan penuh puluhan tahun lalu. "Seluruh laporan keuangan kuartal kedua dari lini hulu kelapa sawit dan industri otomotif peninggalan faksi Bambang dan Hendrawan sudah kami amankan sesuai prosedur."

Sekar mengambil tablet digital itu tanpa ekspresi, menatap angka-angka keuntungan fantastis di dalamnya. Garis takdir memang telah berhasil ditulis ulang. Ia selamat dari kematian di peti kemas. Tapi melihat kekosongan dan rantai paranoid di gedung ini, Sekar baru menyadari satu hal yang pedih: bahwa ia mungkin hanya sekadar menukar satu penjara kematian dengan bentuk penjara lain yang berlapiskan emas dan permata.