Kembali ke Daftar Isi

Episode 16: Lingkaran yang Terputus?

Chapter 4: Surat Terakhir dari Sang Raja

Lokasi: War Room, Menara Garam-Mahkota
Waktu: Beberapa Detik Kemudian

"Ibu... mohon maaf memotong instruksi Anda. Ada sebuah surat yang ditandai sangat mendesak dan sangat personal untuk Anda," lapor petugas keamanan itu ragu-ragu di tengah bisingnya instruksi transaksi bursa triliunan rupiah.

Sekar, yang urat lehernya masih menegang memompa adrenalin pertempuran, menoleh dengan tajam. Ia memberi isyarat tangan agar Bimo dan timnya terus melanjutkan pertempuran menekan balik di pasar bursa.

Sementara itu, Sekar melangkah menjauh, berjalan ke sudut ruangan yang agak teduh dan merobek amplop hitam usang tersebut. Di dalamnya, tidak ada alat peledak ataupun alat penyadap. Hanya ada selembar kertas putih yang sudah sangat menguning dimakan usia, dipenuhi oleh tulisan tangan dari tinta pulpen yang sangat ia kenal: itu adalah goresan khas milik mendiang ayahnya kandungnya, H. Sulaiman.

Kertas usang itu rupanya bukan sembarang kertas. Itu adalah sebuah surat wasiat emosional sejati yang dirahasiakan, sengaja dititipkan oleh sang Raja Tua pada Notaris Publik tepercaya, dengan satu instruksi absolut mutlak: Hanya boleh diserahkan secara khusus kepada putrinya, Sekar (atau Arini), tepat di tanggal ini pada tahun 2026, apa pun yang terjadi pada kerajaan bisnis Mahkota.

Sekar membaca pelan baris demi baris surat itu.

*"Anak bungsuku... Arini...
Jika kau akhirnya membaca surat yang ditunda puluhan tahun ini, berarti insting bisnis dan kekejaman yang kuwariskan padamu berhasil. Berarti kau telah membantai mereka semua, dan berhasil merebut seluruh puncak menara tertinggi korporasi ini.*

Aku menulis pesan ini di malam-malam terakhirku, dengan sisa-sisa kewarasanku yang meronta dari kegilaan penyakitku.

Jangan... jangan pernah biarkan tempat di puncak itu menjadi penjara abadi bagimu, Nak. Persis seperti halnya tempat terkutuk itu telah memenjarakan seluruh hidup, kebahagiaan, dan rasa kemanusiaanku selama puluhan tahun hingga aku lupa cara mencintai keluargaku sendiri.

Menanglah di sana, buktikan pada mereka semua siapa dirimu... lalu pergilah. Pulanglah ke rumah, tinggalkan pedang berdarah itu. Carilah sebuah kehidupan yang nyata, Arini... kebahagiaan sejati tidak akan pernah kau temukan dalam sekadar tumpukan angka-angka nol palsu di atas layar monitormu."

Kalimat demi kalimat peninggalan sang tiran itu menghunjam tepat di pusat dada Sekar, menembus cangkang besinya.

Membaca surat terakhir itu, nyala api amarah korporat yang sebelumnya berkobar liar di mata Sekar mendadak padam seketika. Dengung pekak tinnitus yang selalu menyiksa telinganya hilang tanpa sisa, digantikan oleh sebuah kesunyian yang amat mendalam, damai, dan merasuk mendinginkan hingga ke sumsum tulangnya.

Perlahan, Sekar menoleh ke arah puluhan layar raksasa di ruang tengah yang masih menampilkan pertempuran perputaran uang puluhan triliun rupiah yang sangat brutal. Ia memandang lekat-lekat pantulan wajahnya sendiri di cermin layar datar tersebut yang gelap: sosok wanita paruh baya yang tegang, luar biasa kelelahan, sangat kesepian, dan dipenuhi oleh dendam paranoia yang tak akan pernah kunjung usai meski uangnya tak terhingga.

Tembok ilusi dan pertahanan batinnya runtuh. Sekar menyadari satu hal filosofis yang sangat krusial: jika malam ini ia terus melayani permainan catur iblis dari pihak yang menantangnya (entah itu bayangan Haikal, pesaing baru, atau penjelajah waktu lainnya), ia hanya akan berubah secara permanen menjadi monster serakah yang persis sama dengan sosok kejam mendiang H. Sulaiman tua.

Sekar memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang. Sebuah senyuman tipis dan teramat lega perlahan mekar menyejukkan wajahnya yang selama dua puluh lima tahun ini membeku.

"Bimo," panggil Sekar tenang dan lembut, memecah kebisingan ruangan.

Bimo menoleh tergesa-gesa. "Ya, Ibu Sekar? Kami baru saja memukul balik titik support mereka. Kita hampir menghancurkan posisi margin Haikal—atau siapa pun dalang di balik layar ini—secara mutlak di pasar!" seru Bimo bersemangat, tanpa mengalihkan tangannya dari papan tik keyboard.

Sekar melangkah ke meja kontrol utama dan menekan tombol jeda darurat sistem internal. "Hentikan. Hentikan semuanya sekarang, Bimo."

Ruangan War Room seketika senyap. Seluruh trader menoleh padanya dengan bingung.

"Jual seluruh posisi saham mayoritas pribadi atas namaku di bursa secara terbuka malam ini juga," perintah Sekar dengan keputusan bulat dan tenang. "Lalu, alihkan seluruh sisa triliunan aset modal utama Garam-Mahkota Group yang likuid menjadi sebuah yayasan dana publik berskala global. Yayasan itu nantinya akan dikelola seratus persen oleh tenaga ahli profesional independen, bukan oleh darah keluarga Mahkota."

Bimo terbelalak kaget bukan main, rahangnya nyaris jatuh. Tablet digitalnya lolos dari pelukannya dan menabrak karpet. "Apa? Tapi, Ibu Sekar... jika Ibu menarik diri dari permainan dan melepas semua ekuitas ini sekarang... Ibu akan kehilangan seluruh takhta kerajaan yang sudah kita bangun dengan darah seumur hidup!"

Sekar tersenyum penuh kedamaian yang tak pernah dilihat siapa pun sebelumnya.

"Aku sama sekali tidak kehilangan apa-apa, Bimo. Ketamakan itulah yang selama ini telah merampas segalanya dariku," ucap Sekar lembut nan pasti.

Dengan tangan mantap, ia melepaskan tali kartu identitas keamanan (ID Card) VVIP eksekutif berbalut emas dari lehernya, lalu meletakkannya di atas meja kaca secara perlahan.

"Malam ini, aku baru saja memenangi pertempuran yang paling sulit dan sesungguhnya melawan diriku sendiri, Bimo," tutup Sekar. "Aku... sudah menyelamatkan hidupku."