Episode 15: Pembersihan Total
Chapter 5: Skakmat di Depan Kamera
Lokasi: Ruang Rapat Utama Menara Mahkota
Waktu: Detik-detik Penangkapan
Menyadari bahwa takhta dan hidupnya telah hancur lebur berkeping-keping, Haikal Mahkota panik luar biasa.
Dalam keputusasaan yang pengecut, Haikal mencoba kabur menerobos barikade lewat pintu belakang ruang rapat. Namun, ia langsung dihadang, dijegal keras, dan dipiting ke lantai tanpa ampun oleh dua petugas Satgas Tipikor bertubuh kekar. Wajah arogannya yang dulu selalu meremehkan Arini, kini mencium keras lantai marmer dingin Menara Mahkota. Kacamata mahalnya pecah berantakan menggores pipinya.
Meski lengannya terkunci di punggung, Haikal mendongak dengan bibir berdarah, tersenyum sinting dan berteriak ke arah Arini.
"Kau pikir kau menang dan mengambil semuanya, anak haram?! Kau cuma mendapat ampas perusahaan busuk!" jerit Haikal histeris. "Seluruh aset tunai sangat likuid dari yayasan Mahkota sudah kupindahkan secara digital ke rekening luar negeri di Cayman Islands! Uang itu tidak akan pernah bisa dilacak dan disentuh oleh kejaksaan bodoh ini! Dan suatu hari nanti, ingat kata-kataku... aku akan menyewa pembunuh bayaran dari penjara dan kembali untuk membeli nyawamu, Arini!"
Sementara itu, sang ayah, Bambang Mahkota, hanya bisa berdiri gemetar hebat bak terserang stroke.
Napas Bambang memburu, matanya membelalak tak percaya. Urat-urat kekuasaan di otaknya hancur. Tangannya yang sedari tadi menggenggam erat palu sidang mendadak lemas mati rasa, hingga palu kayu itu jatuh dari genggamannya dan menggelinding pelan... berhenti tepat menyentuh ujung sepatu hitam Arini.
Arini membungkuk secara perlahan, memungut palu sidang penguasa RUPS tersebut. Ia mengabaikan sama sekali teriakan ancaman kosong Haikal di lantai. Arini lalu menegakkan tubuhnya, menatap wajah ketakutan dan kehancuran absolut kakak tirinya, Bambang, dengan mata yang gelap gulita sedalam sumur tua.
"Kakak selalu menganggap ibuku orang kampung yang kotor, dan ayah angkatku sekadar sampah yang bisa disingkirkan seenaknya," desis Arini tajam, suaranya mengiris harga diri Bambang hingga ke tulang. "Tapi hari ini, di bawah kilatan lampu kamera seluruh jurnalis media Indonesia... semua orang akan mencatat dan melihat... dinasti besar yang kalian banggakan ini, runtuh hancur lebur sebagai penjahat negara yang sangat memalukan."
Arini mengangkat palu sidang itu tinggi-tinggi, lalu mengetukkannya ke atas meja marmer dengan kekuatan mutlak.
TOK!
"Seluruh triliunan saham utama faksi sulung Mahkota resmi disita oleh negara atas kasus korporasi tingkat tinggi ini," deklarasi Arini di depan kamera. "Dan malang bagi kalian... melalui firma Garam Capital, aku telah menandatangani kesepakatan Buyback (pembelian kembali) eksklusif dengan Kementerian Keuangan pagi ini... untuk membeli seluruh saham sitaan kalian tersebut dengan harga satu rupiah per lembar."
Arini tersenyum di atas mayat dinasti itu.
"Aku tidak mewarisi Mahkota dari wasiat kalian, Kak... aku baru saja membelinya dari tempat sampah dengan harga satu rupiah. Uangmu di Cayman Islands tidak ada artinya tanpa jaringan kerajaanku di sini."