Episode 15: Pembersihan Total
Chapter 4: Langkah Kemenangan sang Arsitek Krisis
Lokasi: Ruang Rapat Utama Menara Mahkota
Waktu: Momen yang Sama
Dari balik barisan aparat kepolisian bersenjata laras panjang yang membelah jalan, sosok sang arsitek sesungguhnya akhirnya menampakkan diri.
Arini melangkah masuk dengan gaun blazer formal hitam pekat yang dirancang sangat tajam, terlihat sangat kontras menyerap cahaya di tengah warna lantai marmer putih bersih Menara Mahkota. Di belakangnya, Bimo berjalan tegap bak ajudan perang, membawa sebuah koper besar berbahan polycarbonate berisi dokumen tebal.
Arini berjalan sangat pelan namun anggun, membiarkan bunyi detak heels-nya menggema mengintimidasi ruangan. Ia memutari meja rapat panjang, menatap satu per satu wajah panik direksi yang pernah meremehkannya. Ia lalu berhenti tepat di depan ujung meja, berhadapan langsung dengan kursi Bambang Mahkota.
Arini membuka koper yang disodorkan Bimo. Dengan tatapan sedingin gletser, ia mengeluarkan manifes asli korupsi tahun 1987, lalu laporan polisi rekayasa soal kecelakaan ibunya, dan terakhir: bukti cetak transfer gratifikasi suap hakim PN Jakarta Pusat. Arini melemparkan seluruh tumpukan bukti pamungkas itu ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara tamparan keras.
"Kak Bambang mengira uang suap kotor senilai dua miliar rupiah yang dicuci lewat galeri seni lukisan Affandi di Ancol... bisa memuluskan eksekusi wasiat palsu itu dan membeli keadilan di meja hakim?" tanya Arini dengan suara rendah nan merdu yang luar biasa mengintimidasi batin.
"Bukan hanya itu kejahatan kalian," sambung Jaksa Mita yang berdiri di samping Arini, sambil membuka map dakwaan resminya.
Mita menatap tajam ke arah Bambang dan Haikal. "Kami dari Kejaksaan memiliki bukti otentik tak terbantahkan, bahwa seluruh modal awal triliunan hulu sawit milik faksi sulung ini, murni berasal dari dana talangan fiktif BLBI dan penjarahan aset negara di tahun 1987. Surat wasiat kalian otomatis batal demi hukum negara karena asetnya berstatus barang curian!"
Belum sempat Bambang mencerna ledakan itu, Mita membacakan dakwaan pidana pamungkasnya.
"Selain itu, Saudara Bambang Mahkota dan Haikal Mahkota, Anda berdua resmi ditahan siang ini atas tuduhan berlapis. Pertama, Pendanaan Pembunuhan Berencana terhadap Tuan Besar H. Sulaiman melalui eksekutor mantan kepala keamanan, Harun. Dan kedua, keterlibatan aktif secara konspirasi pada kecelakaan pembunuhan 'tabrak lari' masa lalu untuk menutupi kejahatan ini. Kalian tidak akan pernah melihat sinar matahari lagi."