Kembali ke Daftar Isi

Episode 14: Warisan sang Singa Tua

Chapter 5: Konfrontasi di Pusaran Badai

Lokasi: Kantor Kejaksaan Agung (Ruangan Mita)
Waktu: Sore Hari

Sore harinya, saat rintik hujan mulai turun membasahi kaca gedung, Arini mendatangi kantor Kejaksaan Agung secara diam-diam melalui jalur khusus untuk menemui Jaksa Mita.

Arini tidak membawa draf pembelaan bisnis atau dokumen holding, melainkan menenteng sebuah amplop cokelat tebal yang sangat rahasia. Amplop usang itu ia ambil dari brankas peninggalan mendiang ayah angkatnya—sang sopir korban fitnah.

"Mita, RUPS Luar Biasa susulan untuk pembubaran entitas Holding yang diajukan oleh Kak Bambang akan digelar paksa besok pagi," lapor Arini cepat begitu mengunci pintu ruangan Mita. "Mereka ingin memecah cangkang Grup Mahkota menjadi belasan aset kecil yang terpisah (divestasi internal) agar harta warisan itu luput dari sitaan utang jaminan negara atas wasiat 1999."

Mita membuka amplop cokelat kotor itu dan langsung menahan napas terkejut melihat isinya. Itu bukan sembarang dokumen korporat.

Itu adalah bukti cetak transfer sirkuler (berantai) dari kas yayasan budaya milik istri Bambang Mahkota, yang ditransfer memutar melalui rekening anonim, lalu mengalir mulus ke rekening kerabat Hakim Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang kebetulan sedang memegang kasus sengketa waris mereka. Bambang Mahkota rupanya tidak hanya menyuap orang di kejaksaan, tapi telah terang-terangan 'membeli' palu pengadilan untuk mempercepat eksekusi wasiat palsunya secara sepihak.

"Ini gratifikasi level Grand Corruption, Arini," ujar Mita dengan wajah pucat dan rahang menegang. Cengkeramannya pada kertas bukti itu mengerat kencang menahan marah, idealisme penegakan hukumnya tersinggung keras.

"Aku bisa langsung bergerak membentuk tim khusus dan mengeksekusi penangkapan ini dalam operasi tangkap tangan," ancam Mita bimbang, "tapi ini berarti kita akan membongkar seluruh borok dan skandal kotor keluarga Mahkota ke permukaan media massa. Nama dinasti kakekmu—ayahmu—beserta seluruh integritas usahanya akan hancur total jadi abu di mata publik Indonesia."

Mita menatap Arini dengan raut peringatan terakhir. "Kau yakin mau membakar rumahmu sendiri?"

Arini tidak menjawab langsung. Ia melangkah elegan ke arah jendela besar di ruangan sang jaksa. Ia menatap lekat-lekat awan mendung yang berarak hitam pekat di atas siluet langit Jakarta, pertanda badai yang sebentar lagi akan tumpah.

"Aku tidak pernah sedetik pun punya niat untuk menyelamatkan nama baik Mahkota, Mita," ucap Arini perlahan dengan nada yang menggigilkan tulang, tanpa menoleh sedikit pun. "Aku datang ke sini... justru untuk menguburnya bersama mereka."