Episode 15: Pembersihan Total
Chapter 1: Sumpah di Atas Sajadah dan Amarah Faksi Sulung
Lokasi: Paviliun Belakang Istana Mahkota
Waktu: Malam Hari, Sebelum RUPS Pembubaran
Suasana sunyi menyelimuti paviliun belakang Istana Mahkota yang sumpek dan berdebu. Tempat ini adalah saksi bisu di mana Arini tumbuh besar dalam kemiskinan dan penderitaan bersama ibunya yang berstatus pelayan, sementara saudara-saudara tirinya hidup bergelimang kemewahan di gedung utama.
Arini berdiri dalam keheningan malam, menatap selembar sajadah usang berlubang peninggalan almarhumah ibunya. Di atas meja kayu tua di dekat sajadah itu, terletak sebuah peti kotak dari kayu jati yang telah ia buka paksa gemboknya.
Arini perlahan menjulurkan tangannya, mengambil dua buah dokumen kusam dari dalam peti tersebut: manifes asli aliran dana sawit tahun 1987 dan berkas salinan laporan kepolisian asli tentang kecelakaan lalu lintas ibunya.
Ia memejamkan mata, mengingat kembali percakapannya yang menyayat hati dengan mantan jaksa tua di balik kaca sel Lapas Cipinang tempo hari. Ayah angkatnya (sang mantan sopir) dipenjara seumur hidup dan hancur di dalam sel isolasi bukan karena ia benar-benar bersalah. Ia ditumbalkan oleh H. Sulaiman demi menutupi rahasia darah daging Mahkota.
Dan ibunya... ibunya tidak mati karena musibah. Ibunya dibunuh dengan ditabrak mobil oleh Herlina Mahkota demi melindungi rahasia anak luar nikah ini dari jangkauan ketamakan Bambang dan Herlina sendiri.
Tatapan mata Arini kini berubah sedingin es di kutub utara. Ia meremas tepi meja kayu itu hingga buku jarinya memutih.
"Ibu... Ayah... amarah meledak-ledak tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah dan mengembalikan nyawa kalian," gumam Arini pelan membelah kesunyian kamar paviliun itu. "Tapi keadilan korporasi membutuhkan eksekusi yang sangat dingin dan sangat bersih."
Arini melipat kembali dokumen-dokumen itu dan memasukannya ke dalam tas kerjanya. "Malam ini, aku bersumpah di atas sejadah ini, aku akan memastikan nama baik kalian dibersihkan. Dan mereka yang telah menginjak-injak darah dan martabat kita... akan merangkak memohon ampun di lantai yang sama besok pagi."