Kembali ke Daftar Isi

Episode 14: Warisan sang Singa Tua

Chapter 3: Perang Hukum dan Pemblokiran Menara

Lokasi: Lobi Menara Mahkota & Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Waktu: Esok Paginya

Hendrawan, yang faksinya sudah bangkrut dan tak punya daya uang, hanya bisa menonton pasrah dengan wajah melongo di sudut ruangan Istana Mahkota semalam.

Sementara itu, berbekal legalitas wasiat tua tersebut, Bambang Mahkota langsung mengeksekusi kudeta hukum perdatanya tanpa ampun. Menggunakan kekuatan koneksi korupnya, pengacara faksi Bambang mengajukan Gugatan Provisi (sita jaminan kilat) ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pagi-pagi buta. Tujuannya satu: membekukan secara resmi seluruh hak veto dan akses aset operasional Arini di Mahkota Financial Holding selama masa sengketa waris berjalan.

Dampaknya sangat instan.

Keesokan paginya saat jam masuk kantor, Arini dan Bimo yang baru turun dari mobil tiba-tiba dihadang secara kasar oleh barikade puluhan petugas keamanan eksternal berbadan tegap di depan pintu putar (revolving door) lobi Menara Mahkota. Pasukan satpam lama telah diganti oleh Bambang.

Haikal Mahkota berdiri di belakang barikade keamanan itu. Ia melipat kedua lengannya di dada, menyeringai arogan menatap Arini yang tertahan di luar gedung.

"Maaf sekali, Nona Arini. Berdasarkan perintah Pengadilan Negeri dan arahan dari Dewan Direksi sementara yang kini dipimpin oleh ayahku, akses fisik Anda dan firma Garam Capital ke sistem pusat Menara Mahkota resmi ditangguhkan mulai detik ini," ucap Haikal merendahkan, sengaja membesarkan volume suaranya agar didengar oleh ratusan staf kantor yang sedang lewat. "Silakan tunggu sampai sidang sengketa waris selesai beberapa tahun lagi."

Bimo mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi, bersiap mendobrak masuk, namun Arini dengan cepat menahan lengan asistennya itu. Arini tetap bersikap sangat tenang, tak terpancing sedikit pun oleh provokasi teatrikal itu.

Arini menatap mata Haikal dengan pandangan tajam bak pedang es, meremehkan kepintaran musuhnya.

"Kau mengira selembar kertas tua yang berdebu dari masa lalu bisa menyelamatkanmu dari gelombang masa depan, Haikal?" ancam Arini datar, mengukir senyum fixer-nya. "Silakan nikmati kursi pinjaman itu selama dua hari ini. Bersihkan mejanya untukku."

Arini lalu berbalik tanpa beban dan masuk kembali ke dalam mobilnya, meninggalkan Haikal yang seketika dilanda perasaan tidak enak meski ia merasa sedang menang mutlak.