Episode 14: Warisan sang Singa Tua
Chapter 1: Sisa Kejernihan di Ruang Sunyi
Lokasi: Kamar VVIP RS Medistra
Waktu: Malam Hari, Beberapa Waktu Setelah RUPS
Suasana sunyi menyelimuti kamar VVIP RS Medistra yang temaram. Hanya terdengar suara ritmis dari mesin penyokong kehidupan. Detak jantung H. Sulaiman di monitor berbunyi lambat dan lemah.
Efek samping stimulan saraf dosis tinggi yang disuntikkan sebelumnya telah memaksa jantungnya bekerja di luar batas dan merusak jaringan vaskular otaknya secara permanen. Kematian fisik kini hanya menunggu hitungan menit.
Namun, malam itu, ada sebuah keajaiban medis yang janggal. Kesadaran sang Raja Tua mendadak jernih sempurna—sebuah fase terminal lucidity (kejernihan sesaat) yang sering dialami otak tepat sesaat sebelum ajal menjemput.
H. Sulaiman yang terbaring lemah perlahan menoleh. Ia menatap Arini yang sedang duduk bersila lengan di kursi samping ranjangnya, menjaga dalam diam.
Di mata Sulaiman, tidak ada lagi tatapan gila kosong atau delirium ketakutan. Tatapannya kembali sangat tajam, penuh kalkulasi bisnis, namun terselip rasa lelah yang teramat sangat setelah puluhan tahun berperang di rimba ekonomi Nusantara.
"Aku sudah memeriksa secara diam-diam seluruh jejak berkas transaksi Garam Capital milikmu dari awal kemunculannya, Arini..." bisik Sulaiman, suaranya parau dan terputus-putus. "Cara kau melihat celah pasar modal... cara kau memprediksi krisis perbankan Y2K... dan caramu menatapku dengan dendam yang sangat matang dan dingin..."
Sulaiman menghela napas panjang, tersenyum getir. "Kau... kau bukanlah sekadar Arini kecil yang dulu ketakutan di paviliun belakang. Di dalam kepala itu, bersembunyi sesosok monster yang jauh lebih tua dari usiamu."
Arini tertegun mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang sedetik. Apakah sang Raja Tua—ayah biologisnya ini—dengan insting buasnya entah bagaimana bisa meraba anomali ingatan masa depan dari jiwa Sekar?
Sulaiman tersenyum tipis, sebuah senyum misterius yang sarat akan pengakuan terakhir seorang tiran.
"Tapi... itu tidak penting lagi," lanjut Sulaiman lemah. "Di dunia bisnis yang kejam ini, tidak peduli siapa jiwamu yang sebenarnya. Yang penting adalah... kau membuktikan bahwa kau memiliki darah dingin seorang penguasa sejati. Kau memiliki kelicikan yang persis sama denganku. Kau adalah satu-satunya 'Mahkota' yang asli."
Sulaiman memaksakan tangannya yang bergetar hebat untuk menggapai tangan Arini.
"Ambillah kerajaan korup ini, Arini... hancurkan dan bentuk ulang sesukamu."
Tepat setelah wasiat tak tertulis itu selesai terucap, monitor elektrokardiogram (EKG) berbunyi nyaring memanjang. Garis grafik hijau itu mendatar.
H. Sulaiman mengembuskan napas terakhirnya perlahan ke udara kosong, sambil menggenggam erat telapak tangan Arini. Malam itu, sang arsitek dan diktator bisnis terbesar Nusantara resmi wafat, meninggalkan singgasana yang bersimbah darah intrik.