Kembali ke Daftar Isi

Episode 13: Gelombang Asing dan Runtuhnya Proteksi

Chapter 5: Kebangkrutan Sistemik Faksi Kedua

Lokasi: Kantor Operasional Hendrawan Mahkota
Waktu: Malam Hari, Akhir Bulan

Di sisi lain hiruk-pikuk ibu kota, di dalam gedung kantor operasional pribadi Hendrawan Mahkota yang biasanya mewah, kondisinya kini sekacau kapal karam.

Tumpukan surat resmi penyitaan jaminan aset (sita eksekusi) dari Bank Indonesia dan berbagai lembaga kliring sekuritas menggunung berantakan di atas meja kerja mahogani milik Hendrawan. Semuanya terjadi karena seluruh vendor komponen pasokan Timur Motors (yang ia biayai dari kantongnya sendiri) secara resmi mengumumkan status Gagal Bayar (Default) dan pailit.

Hendrawan Mahkota terduduk lemas di lantai berkarpet merah ruang kerjanya. Kemejanya kusut masai, dasinya sudah lama dilonggarkan bak tali gantungan. Ia menatap kosong tumpukan kertas tagihan triliunan rupiah itu dengan mata merah berkaca-kaca.

Mantan pangeran anak kedua dinasti itu akhirnya menyadari dengan rasa pahit yang membakar kerongkongan: bahwa seluruh sisa kekayaannya, aset propertinya, dan kebanggaan egonya, telah benar-benar musnah dan menguap menjadi debu. Semuanya terjadi akibat serangan balik skala global yang tak kasat mata dari adik bungsu tirinya sendiri, si anak pelayan miskin bernama Arini.

Malam itu, lini hulu, lini hilir, dan ambisi otomotif dari faksi anak kedua resmi dilumpuhkan total secara sistemik, hingga tak menyisakan satu sen pun sumber daya finansial untuk memberikan perlawanan balik.

Bambu runcing Hendrawan telah patah oleh senjata pemusnah massal kapitalisme global. Di atas papan catur yang penuh bangkai ini, faksi Hendrawan resmi mati konyol. Kini, Arini menatap lurus ke arah sisa pion terakhir keluarga Mahkota.