Kembali ke Daftar Isi

Episode 13: Gelombang Asing dan Runtuhnya Proteksi

Chapter 4: Ekspansi Garam-Hyundai di Cikarang

Lokasi: Pabrik Cikarang & Bursa Efek Jakarta
Waktu: Beberapa Hari Kemudian

Dalam hitungan jam pasca-pengumuman pencabutan proteksi pajak oleh pemerintah, megaproyek kebanggaan Timur Motors langsung limbung total menabrak tebing.

Tanpa subsidi dari negara, harga pokok produksi (HPP) komponen mereka meroket tajam ratusan persen. Vendor-vendor suku cadang lokal—yang seluruh modal awalnya dipasok oleh utang bunga tinggi faksi Hendrawan Mahkota—mulai panik. Mereka menagih pembayaran tunai hari itu juga karena takut bangkrut.

Di titik krisis otomotif terparah inilah, Arini mengeksekusi rencana cadangannya (Plan B) yang paling mematikan.

Mengetahui kelemahan pasar, ia menggunakan dana taktis (cash reserve) raksasa milik Garam Capital yang sangat likuid. Dalam sebuah press release mendadak di Hotel Mulia, Arini mengumumkan penandatanganan kerja sama Joint Venture strategis dan masif antara Mahkota Motors dengan sebuah raksasa konglomerasi otomotif asal Korea Selatan (yang memang sudah lama mengincar pasar Asia Tenggara, namun dulu selalu terhambat aturan lobi Mahkota).

Dengan suntikan alih teknologi mesin canggih dan pasokan modal asing yang segar, Arini me- rebranding lini produknya. Ia meluncurkan lini mobil keluarga tipe Multi Purpose Vehicle (MPV) modern dengan harga murah yang didasarkan murni pada efisiensi pabrik tinggi, langsung dari lini perakitan pabrik baru mereka di kawasan industri Cikarang.

Tanpa perlu mengemis subsidi pemerintah, produk MPV revolusioner Arini ini langsung meledak laku keras di pasaran kelas menengah Indonesia. Penjualan itu berhasil membalikkan keadaan bursa saham secara drastis dalam semalam, sekaligus merebut paksa tujuh puluh persen pangsa pasar otomotif nasional yang tadinya dijanjikan pada Timur Motors.