Episode 13: Gelombang Asing dan Runtuhnya Proteksi
Chapter 1: Siasat Mobil Nasional dan Aliansi Hendrawan
Lokasi: Hotel Mewah di Sudirman & Kantor Garam Capital
Waktu: Siang Hari
Sebuah konferensi pers besar-besaran dan sangat mewah digelar oleh sisa-sisa faksi Hendrawan Mahkota.
Di atas panggung megah berlatar belakang layar LED raksasa, Hendrawan berdiri dengan penuh senyum kemenangan. Ia tampil percaya diri bersanding dengan para pejabat kementerian perindustrian gelombang baru (kroni-kroni politik pasca-reformasi). Hari itu, mereka resmi meluncurkan Timur Motors—proyek "Mobil Nasional" yang digadang-gadang mendapat hak proteksi pajak paling eksklusif dari pemerintah pusat.
Di bawah regulasi kotor baru tersebut, Timur Motors dibebaskan dari Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan menikmati bea masuk komponen impor hingga nol persen. Hak istimewa ini membuat harga jual Timur Motors anjlok tajam berada jauh di bawah harga rasional pasar. Sebaliknya, saham Mahkota Motors (milik holding utama yang kini dipegang Arini) terjun bebas di bursa hingga tiga puluh persen karena dinilai analis tidak akan pernah mampu bersaing melawan barang bersubsidi.
Di dalam kantor Garam Capital yang sibuk, Bimo membanting tumpukan laporan bursa ke atas meja kaca dengan wajah tegang kemerahan.
"Kakakmu yang satu itu ternyata sangat licik dan ulet, Arini," geram Bimo sambil menunjuk layar ticker merah. "Hendrawan sengaja mencairkan dan memindahkan seluruh sisa aset likuiditas dari bisnis lamanya demi menguasai jalur vendor komponen tunggal Timur Motors. Jika Mahkota Motors tumbang bulan depan, dia punya posisi tawar (leverage) politik yang sangat kuat untuk memaksa Tuan Besar Sulaiman menyerahkan kembali kursi kepemimpinan holding yang baru saja kau rebut!"
Arini, yang duduk menyilang kaki sambil melihat grafik perdagangan hancur lebur di layar komputernya, anehnya hanya tersenyum sangat tenang. Ia menyesap teh chamomile-nya tanpa beban.
"Biarkan Kak Hendrawan minum sampanye dan merayakannya dulu di televisi, Bimo," ucap Arini dengan tatapan mata yang sudah membaca masa depan. "Dia mengira kekuatan lobi menteri dan proteksi hukum pemerintah lokal adalah segalanya di dunia ini. Dia lupa satu hal fundamental... bahwa Indonesia tahun lalu baru saja meratifikasi perjanjian perdagangan bebas global."