Episode 12: Retaknya Topeng Dinasti
Chapter 6: Krisis Otomotif Nasional dan Tantangan Terakhir
Lokasi: Kamar H. Sulaiman, Istana Mahkota
Waktu: Menjelang Tengah Malam
Menjelang tengah malam, usai menghancurkan mental pamannya, Arini kembali ke kamar tidur H. Sulaiman yang besar namun terasa teramat sunyi di dalam Istana Mahkota.
Sang Patriark kini berada dalam fase tenang (fase pasca-badai delirium). Tubuhnya merosot lemas karena efek obat penenang sudah menguasai otaknya, membuatnya sadar namun sangat lemah tak berdaya. Ia menatap kehadiran Arini di samping ranjang dengan sepasang mata rabun yang teramat lelah. Namun, dari dalam sorot mata kekalahan itu, memancar sebuah pengakuan terdalam yang tak pernah ia berikan pada cucu-cucunya yang lain.
"Kau... satu-satunya darah daging di dunia ini yang benar-benar berani melindungiku hari ini, Arini..." bisik H. Sulaiman lemah dan parau, air matanya menetes pelan dari sudut matanya yang berkerut. "...bukan karena kau sekadar mengincar saham serakahku. Tapi karena... karena hanya kau yang tahu betul... bagaimana rasanya dihancurkan oleh pengkhianatan keluargamu sendiri... tidak seperti paman-pamanmu yang lain."
Sebelum Arini sempat menjawab atau menanggapi pengakuan batin yang tragis itu, Bimo mendadak membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Wajah Bimo tegang dan pucat pasi. Ia bergegas masuk dengan napas memburu, membawa setumpuk gulungan laporan fax laporan pasar bursa (ticker tape) terbaru yang baru saja keluar dari mesin di ruang kerjanya.
"Arini, situasi darurat! Kita kecolongan serangan fatal," lapor Bimo cepat tanpa basa-basi. "Faksi Hendrawan Mahkota yang kita kira sudah mati dan bangkrut, ternyata masih punya taring. Mereka diam-diam menggunakan lobi jaringan mafia politikus Orde Baru lama yang ada di kabinet menteri untuk memboikot habis-habisan peluncuran lini manufaktur industri berat kita, Mahkota Motors."
Bimo meletakkan gulungan fax tersebut di atas meja kecil di samping ranjang.
"Pemerintah baru saja menerbitkan regulasi proteksi baru sore ini secara mendadak. Regulasi kotor itu memberikan fasilitas pembebasan bea masuk suku cadang dan pajak penjualan gila-gilaan kepada proyek 'Mobil Nasional' saingan utama kita, Timur Motors (milik kerabat kroni menteri), sementara secara sengaja membebani pajak ganda yang mencekik pada produksi mobil kita."
Bimo menarik napas dalam. "Akibat sentimen regulasi monopoli rezim lama tersebut, nilai kapitalisasi saham Mahkota Motors terjun bebas 30% di penutupan pasar sore tadi, hanya dalam hitungan belasan jam sebelum lini mobil perdana kita resmi diluncurkan besok! Pabrik kita terancam gagal produksi."
Dinasti Mahkota ternyata belum sepenuhnya aman. Selama pemerintah masih dikendalikan kartel bisnis kroni politikus lama, kemenangan di meja RUPS tidak ada artinya.
Arini menatap saksama kertas laporan grafik saham yang memerah darah itu cukup lama. Hening menguasai ruangan.
Lalu, perlahan Arini menoleh ke arah ayah kandungnya yang terbaring lemah. Segaris senyum misterius yang penuh tantangan, dan sedikit gila, terukir di wajah Arini. Itu adalah senyum predator seorang fixer jenius yang otaknya sudah selesai membaca seluruh lembar buku sejarah kejatuhan ekonomi dari masa depan.
"Ayah tenang saja dan tidurlah," bisik Arini dengan mata berkilat tajam penuh kelicikan. "Kak Hendrawan dan rekan-rekan menteri korupnya mengira bahwa sebuah regulasi pemerintah lokal bisa dengan mudah mencekik leher dan membunuh bisnis industri berat kita secara pelan-pelan."
Arini berjalan pelan ke arah jendela, menatap kelap-kelip lampu gedung pencakar langit Jakarta di malam hari.
"Mereka tidak tahu... kalau mulai besok pagi, pasar investasi global dunia akan berguncang hebat karena sebuah peristiwa kehancuran raksasa yang sebentar lagi akan meledak di Wall Street (Krisis Dot-com Bubble). Mahkota tidak akan hancur malam ini. Karena aku akan menggunakan darah dan kejatuhan musuh-musuh kita di luar negeri... untuk menjadi tangga kemenangan tunggalku," pungkas Arini, menutup malam itu dengan genderang perang berskala global.