Episode 12: Retaknya Topeng Dinasti
Chapter 5: Skakmat di Istana Mahkota
Lokasi: Rumah Pribadi Bambang Mahkota
Waktu: Malam Harinya
Malam harinya, badai eksekusi belum usai. Arini, dengan setelan pakaian hitam baru, mendatangi kediaman pribadi Bambang Mahkota di kawasan Menteng tanpa pengawalan besar; hanya Bimo yang menemaninya di depan pagar.
Ia melangkah santai seolah masuk ke rumahnya sendiri, langsung menerobos masuk ke ruang kerja pamannya yang megah dan dipenuhi barang antik mahal.
Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk berbasa-basi atau mengucapkan salam, Arini melempar sebuah map. Salinan cetak biru cek perjalanan dari Singapura, lengkap dengan manifes jejak aliran dana TPPU (money laundering) pembunuhan dari yayasan budaya antik milik istri Bambang Mahkota, melayang jatuh tepat ke atas meja kayu jati sang paman.
Bambang Mahkota yang sedang stres minum wiski tersentak kaget. Namun dengan cepat ia mencoba menutupi kepanikannya, memasang tampang garang dan menggertak balik.
"Kau pikir aku takut dengan fotokopian ini?! Ini hanya bukti sirkuler murahan, Anak Haram! Tidak ada bukti langsung hitam di atas putih bahwa aku yang memerintahkan si sopir gila Harun untuk menabrakkan truk itu ke kakekmu!" hardik Bambang dengan napas memburu, urat lehernya menonjol.
"Aku sama sekali tidak butuh pembuktian hukum formal di meja pengadilan untuk menghancurkan hidupmu, Kak Bambang," potong Arini dengan nada datar yang teramat mengerikan, lebih dingin dari dasar lautan.
Arini perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap tepat ke manik mata pamannya dengan sorot mematikan seorang fixer yang tak pernah kalah.
"Jika selembar saja dokumen-dokumen kotor ini sampai ke tangan Ayah (Sulaiman) malam ini... kau tahu apa yang akan terjadi. Dengan sisa letupan kewarasan dan temperamen iblisnya yang masih tersisa... dia tidak akan membuang waktu berdebat menyewa pengacara untuk memenjarakanmu. Ayah akan mencoret seluruh nama faksimu dari silsilah keluarga, mengusirmu dan istrimu tanpa nama ke jalanan, dan menyita paksa setiap lembar saham aset yang kau pegang malam ini juga atas tuduhan pengkhianatan berdarah."
Arini menegakkan kembali tubuhnya yang ramping, membenarkan kerah kemejanya. "Jadi, pilihannya sekarang murni ada di tanganmu sendiri."
"Pilihan apa?" geram Bambang.
"Mundur secara sukarela secara tertulis besok pagi dari bursa pencalonan dewan komisaris Holding Mahkota, dan serahkan kendali operasional kebun hulu kelapa sawit sepenuhnya kepadaku... atau silakan keluar dari rumah mewah ini dengan anak istrimu besok pagi dengan status buronan pembunuh ayah kandung sendiri."
Bambang Mahkota perlahan terduduk lemas di kursi kulitnya, gelas wiskinya nyaris terjatuh. Jantungnya serasa diremas tangan tak terlihat. Iblis di depannya ini tidak sedang menggertak. Bambang menyadari satu realitas pahit yang meremukkan keegoan lelakinya: ia baru saja disembelih, dikuliti, dan diperas secara absolut oleh adik tiri bungsunya—sosok yatim piatu yang dulu ia ludahi dan injak-injak martabatnya di paviliun belakang.
Malam itu, bidak catur terkuat dari anak sulung resmi terguling dari papan permainan, tercekik skandal yang ia buat sendiri.