Episode 12: Retaknya Topeng Dinasti
Chapter 4: Tragedi Hina di Dalam Lift Korporasi
Lokasi: Lift Eksekutif VVIP Menara Mahkota
Waktu: Siang Hari, Usai RUPS
Begitu palu rapat resmi ditutup dengan kemenangan absolut, Arini segera menuntun lengan ayah kandungnya keluar ruangan RUPS dengan cepat namun elegan. Mereka berjalan membelah lobi lantai eksekutif dengan diiringi tatapan hormat, takut, dan takjub dari ratusan staf korporat. Arini dan Sulaiman melangkah masuk ke dalam kotak baja lift VVIP pribadi berdinding cermin.
Namun, begitu pintu baja lift itu tertutup rapat... dan hanya menyisakan H. Sulaiman dan Arini berdua saja yang terisolasi dari dunia luar... ilusi keperkasaan sang Patriark Mahkota seketika hancur lebur berantakan tanpa sisa.
Masa kadaluarsa obat itu tiba secara brutal. Efek kimiawi dari stimulan saraf dosis tinggi itu habis tepat pada detiknya, seolah nyawa Sulaiman baru saja dicabut separuh dari ubun-ubunnya.
Tubuh rentan Sulaiman mendadak ambruk merosot. Ia tak kuat lagi menopang berat badannya sendiri, bersandar lemas menabrak dinding lift berbahan cermin itu hingga meluncur jatuh berdebum ke lantai. Tongkat peraknya terlempar bergemerincing.
Saraf motorik dan sensoriknya seketika kehilangan fungsi kendali sama sekali (shut down). Tangannya mulai gemetar hebat tak beraturan. Matanya kembali kosong meracau.
Dan kemudian... sebuah genangan cairan pesing perlahan merembes membasahi celana kain wol mahalnya, menetes deras menggenangi lantai lift. Sang Raja Tua yang paling ditakuti se-Indonesia itu baru saja mengalami insiden inkontinensia (mengompol tanpa sadar) akibat hilangnya kontrol saraf otonom pasca-delirium paksaan yang diinjeksi dokter.
Sulaiman menunduk perlahan. Di sisa-sisa sel kewarasannya yang tersiksa, ia menatap genangan air kencing di sepatunya sendiri dengan tatapan hancur. Air mata keputusasaan yang pedih menggenang di matanya yang rabun.
Harga dirinya yang dulu selalu menjulang angkuh setinggi langit, martabatnya sebagai predator dan penguasa mutlak ekonomi Indonesia... seketika runtuh dan terhina habis-habisan tak bersisa. Terlebih, kehinaan ini terjadi di hadapan putri bungsunya—putri kandung dari mantan pelayan yang selama ini dipaksa memanggilnya 'Tuan Besar' bak tuhan kecil.
Keheningan di dalam kabin lift yang bergerak turun itu terasa membunuh.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk mengejek, Arini segera melepas blazer sutra hitam mahalnya yang bernilai jutaan rupiah. Ia berlutut tanpa ragu di atas lantai lift yang kotor dan pesing itu. Arini menyeka genangan memalukan tersebut dengan tangannya, lalu menutupi celana basah dan kaki ayahnya menggunakan blazer-nya rapat-rapat.
Tepat saat angka digital lift menunjukkan "Ground Floor" dan denting peringatan berbunyi, Arini berdiri tegak di samping ayahnya yang merosot. Ia menunduk menatap Sulaiman, lalu berbisik lirih namun penuh empati dingin yang tulus.
"Di mata ribuan orang di luar pintu sana, Ayah akan tetap abadi sebagai sang Raja yang tak pernah bisa dikalahkan. Biarkan aku yang memegang pedang kotornya, menelan dosanya, dan mengurus sisanya dari balik bayangan."
Pintu lift baja pun terbuka lebar.
Barisan pengawal pimpinan Bimo dan Seno langsung bersiaga menjemput dan mengawal mereka keluar gedung dengan formasi rapat, tanpa ada satu pun karyawan lobi yang mengetahui insiden tragis yang baru saja terjadi di dalam sana. Topeng kebesaran Mahkota tetap utuh tak tertembus.