Episode 12: Retaknya Topeng Dinasti
Chapter 3: RUPS Berdarah di Menara Mahkota
Lokasi: Ruang Rapat (Boardroom) Lantai Teratas Menara Mahkota
Waktu: Siang Hari, Berbarengan dengan RUPS
Keesokan siangnya. Ruang rapat utama (boardroom) di lantai teratas Gedung Menara Mahkota dipenuhi oleh aura ketegangan korporat yang mencekik napas. Meja bundar marmer raksasa itu dikelilingi oleh belasan komisaris senior dan direktur cabang utama dari seluruh penjuru negeri.
Bambang Mahkota duduk sangat angkuh di kursi utama paling ujung (kursi Dirut), memancarkan rasa percaya diri dan kepastian yang absolut. Di samping kanannya, duduk Hendrawan Mahkota yang dengan oportunis licik memanfaatkan momen kekosongan kekuasaan ini untuk beraliansi kembali demi mengamankan sisa hartanya.
"Saudara-saudara sekalian, mari kita bersikap logis dan realistis demi menyelamatkan kapal besar ini," buka Bambang Mahkota di hadapan dewan komisaris. Suaranya menggema penuh otoritas dan intimidasi.
"Karena Bapak Direktur Utama kita, H. Sulaiman, secara medis telah dipastikan lumpuh dan tidak waras lagi untuk menghadiri rapat penentuan ini, saya secara sah dan konstitusional mengusulkan pembatalan sepihak atas draf penunjukan Arini Mahkota sebagai CEO Holding," tegas Bambang. "Sebagai putra mahkota sulung, saya akan mengambil alih kembali kendali penuh operasional hulu kelapa sawit dan restrukturisasi perusahaan ini secara darurat."
Dewan komisaris mulai berbisik-bisik. Kasak-kusuk terjadi, beberapa dari mereka yang sudah dilobi semalaman mulai mengangguk sepakat.
Namun, tepat saat sekretaris rapat mengangkat palu sidang kayu untuk mengetuk pengesahan legalitas resolusi tersebut... pintu kayu jati ganda berukir naga di ruang rapat itu mendadak menjeblak terbuka lebar.
H. Sulaiman melangkah masuk perlahan.
Dadanya membusung kaku. Dagunya terangkat penuh keangkuhan dan kebrutalan masa lalunya. Matanya menatap tajam menghunjam, menyapu satu per satu wajah para pengkhianat di ruangan itu bagai malaikat maut pencabut nyawa. Ia berjalan mantap tanpa kursi roda, hanya bertumpu kuat pada tongkat peraknya, didampingi oleh Arini yang melangkah tegap mengawalnya di belakang.
Efek stimulan kortisol dosis gila-gilaan yang disuntikkan sang dokter bekerja dengan sangat sempurna merestorasi saraf-saraf motoriknya yang hancur.
Seluruh ruangan mendadak senyap bagai disihir kematian. Jantung mereka berhenti berdetak sesaat. Beberapa komisaris senior bahkan tanpa sadar berdiri dari kursinya dengan lutut bergetar karena takjub sekaligus ngeri melihat 'hantu' yang bangkit dari ranjang kematiannya dan datang ke meja rapat.
"Siapa di antara kalian... manusia-manusia parasit yang tidak berguna ini... yang berani mengumumkan kematianku sebelum waktunya... saat aku bahkan belum selesai menghitung margin keuntungan kuartal ini?!" Suara H. Sulaiman menggelegar memecah keheningan, parau namun luar biasa berwibawa menguasai ruangan.
Wajah Bambang Mahkota dan Haikal seketika berubah pucat pasi. Tanpa setetes pun darah tersisa di wajah mereka, seolah mereka berdua baru saja bertatapan langsung dengan malaikat maut.
Di dalam rapat menegangkan berdurasi dua jam itu, tanpa ada satu pun komisaris atau Bambang sendiri yang berani mengangkat tangan untuk membantah, H. Sulaiman secara aklamasi absolut menunjuk Arini sebagai pemegang hak veto tunggal dan pengendali mutlak atas triliunan aset Mahkota Financial Holding. Kudeta Bambang sukses digagalkan.