Episode 12: Retaknya Topeng Dinasti
Chapter 2: Plot Melingkar di Galeri Pasar Seni Ancol
Lokasi: Area Parkiran Bawah Tanah Rumah Sakit
Waktu: Siang Harinya
Sore harinya, saat suasana rumah sakit sedikit tenang, Jaksa Mita menemui Arini secara diam-diam. Mita menunggunya di area parkiran bawah tanah (basement) rumah sakit yang lembap dan sepi. Begitu Arini muncul dari lift, Mita langsung melemparkan sebuah map dokumen cokelat ke atas kap mobil sedan Arini.
Itu adalah salinan hasil interogasi rahasia kejaksaan terhadap pemilik galeri seni abal-abal di Pasar Seni Ancol.
"Cek perjalanan bernilai 2 miliar rupiah yang digunakan untuk membayar Harun—sang eksekutor truk di Semanggi itu—memang terbukti mengalir dari sebuah perusahaan cangkang (shell company) di Singapura. Perusahaan itu tercatat sah atas nama istri Haikal Mahkota," lapor Mita serius sambil bersidekap dada.
"Sesuai tebakanku sejak awal," potong Arini tak terkejut.
"Tapi tunggu dulu," sela Mita cepat, menaikkan sebelah alisnya. "Kejutan hukum sesungguhnya bukan di situ, Arini. Kuncinya terletak pada alibi aset palsu yang ditukarkan."
Mita membuka map tersebut. "Lukisan Affandi palsu yang dibeli dengan cek itu... setelah dilacak rantai pasokannya ke belakang, ternyata lukisan bodong itu awalnya dibeli galeri Ancol tersebut dari sebuah yayasan budaya antik di Jakarta Pusat. Dan coba tebak siapa nama ketua dewan pembina yayasan budaya bodong tersebut?"
Arini terdiam, matanya menyipit tajam, instingnya menangkap alur logika mematikan tersebut dalam sekian detik.
"Istri pertama Bambang Mahkota. Ibu kandung Haikal," desis Arini merumuskan kesimpulan mutlak.
Arini tersenyum sangat dingin di dalam remangnya cahaya neon parkiran bawah tanah. Ia kini memahami desain arsitektur besar dari skenario busuk pamannya.
"Jadi, pembunuhan terencana dengan kedok kecelakaan lalu lintas ini bukan sekadar taktik amatiran dari otak Haikal Mahkota yang impulsif dan bodoh," gumam Arini, mengusap dagunya. "Bambang Mahkota-lah sang arsitek agung di baliknya. Pria tua itu yang merestui dan memfasilitasi pembunuhan adik kandungnya sendiri (ayah angkat Arini) pada tahun 1987. Dan sekarang, demi mempercepat estafet suksesi Mahkota Financial Holding ke tangannya, dia nekat mengulang metode pembunuhan kotor yang persis sama kepada ayah kandungnya sendiri (H. Sulaiman). Sejarah memang selalu berulang, Mita."