Episode 12: Retaknya Topeng Dinasti
Chapter 1: Rahasia Obat Dosis Tinggi di RS Medistra
Lokasi: Kamar Rawat VVIP & Lorong RS Medistra
Waktu: Pagi Hari sebelum RUPS
Layar imajiner terbuka di dalam ruang sterilisasi VVIP RS Medistra yang dijaga ketat oleh pengawal bersenjata Garam Capital. Pagi itu, H. Sulaiman masih meringkuk lemah di atas kasurnya yang kebesaran, tenggelam dalam kondisi delirium vaskular yang sangat parah pasca-kecelakaan. Matanya menatap kosong ke langit-langit, mulutnya sesekali menggumamkan ketakutan meracau tanpa makna.
Di lorong luar, sayup-sayup terdengar gema langkah kaki yang berat dan mendesak. Itu adalah derap sepatu pantofel milik Bambang Mahkota dan Haikal Mahkota. Mereka berdua berjalan congkak ke arah kamar VIP, didampingi jajaran pengacara korporat termahal di Jakarta dan beberapa notaris independen.
Misi Bambang hari ini hanya satu: Menuntut pemeriksaan rekam medis mental independen terhadap Tuan Besar secara paksa, guna membuktikan sang Patriark tak lagi waras. Dengan demikian, secara hukum perdata, Bambang bisa membatalkan seluruh hak veto dan limpahan saham yang akan diberikan kepada Arini di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) siang ini.
Di dalam kamar, kepanikan terselubung terjadi. Arini mencengkeram erat kerah jas putih dokter spesialis saraf RS Medistra—sebuah rumah sakit bergengsi yang diam-diam dikelola sahamnya oleh ayah dari Jaksa Mita.
"Beri Ayah suntikan obat stimulan saraf susulan sekarang juga," perintah Arini tanpa emosi. Tatapan matanya menyiratkan keputusasaan absolut yang ditekan dalam-dalam. "Dia harus terlihat waras, beringas, dan sadar penuh selama dua jam saja di dalam ruang rapat RUPS nanti siang."
Dokter itu menggeleng cemas, peluh dingin membasahi pelipisnya.
"Arini, tolong mengerti secara medis," tolak sang dokter gemetar. "Obat stimulan kortisol ini sifatnya memaksa memacu jantung dan memaksa pembuluh darah otak yang sudah rusak parah untuk berkompensasi jauh di atas ambang batas wajar. Jika dosisnya saya naikkan dua kali lipat menjadi terlalu tinggi, ayah kandungmu bisa terkena stroke hemoragik (pembuluh darah pecah) yang seketika berakibat fatal. Otaknya bisa meledak dari dalam! Ini murni taruhan nyawa, Arini!"
Arini melepaskan cengkeramannya dari kerah sang dokter perlahan-lahan. Ia menoleh, menatap ayah biologisnya yang masih terus meracau lirih tentang bayangan hantu pengkhianatan masa lalu. Perlahan, rahang Arini mengeras, wajahnya berubah bagai pualam putih tak bernyawa.
"H. Sulaiman lebih memilih mati meledak tergenggam kekuasaan di atas takhta," bisik Arini dengan kepastian dingin yang menakutkan, "daripada harus hidup berlama-lama sebagai singa tua ompong yang diinjak-injak harga dirinya oleh musuh berdarah dagingnya sendiri. Suntik dia sekarang, Dokter. Atau kau akan kehilangan karirmu besok pagi."