Kembali ke Daftar Isi

Episode 11: Kabut di Ujung Monas

Chapter 5: Keruntuhan Mental sang Singa Tua

Lokasi: Kamar VVIP RS Medistra
Waktu: Malam sebelum RUPS Luar Biasa

Malam sebelum hari penentuan (RUPS Luar Biasa), Arini melangkah dengan tenang masuk ke dalam kamar rawat inap VVIP H. Sulaiman. Ia datang berniat memberikan laporan akhir yang memuaskan: bahwa kekuatan logistik faksi Bambang Mahkota telah sukses dilumpuhkan secara finansial tanpa sisa, lewat batalnya tender BUMN. Mereka siap mengeksekusi Mahkota besok.

Namun, begitu Arini menekan sakelar dinding dan menyalakan lampu kamar yang temaram, langkahnya membeku kaku di ambang pintu. Darahnya berdesir ngeri hingga ke ubun-ubun.

H. Sulaiman tidak lagi duduk dengan postur gagah dan congkak di atas ranjangnya.

Sang Patriark bisnis yang sangat ditakuti se-Nusantara itu sedang meringkuk gemetar di sudut lantai marmer yang dingin, bersembunyi tepat di bawah kolong ranjang rumah sakit. Ia memeluk kedua lututnya dengan tubuh kurus yang berguncang hebat.

Mata pria tua yang dulu selalu setajam dan setajam elang petarung, kini terlihat kosong membelalak, berair, dan dipenuhi oleh rasa ketakutan primitif yang sangat menyedihkan seperti anak kecil yang kehilangan induknya.

Rupanya, trauma benturan psikologis dan memar fisik hebat di kepalanya pasca-kecelakaan Semanggi telah mempercepat kerusakan pembuluh darah di otaknya secara drastis dalam dua hari terakhir. Malam itu, sang Raja Tua mengalami serangan delirium akut yang memicu Demensia Vaskular stadium akhir.

Kewarasan dan rasionalitas H. Sulaiman telah hancur tanpa sisa, tepat di saat paling krusial.

"Jangan... jangan bunuh aku..." bisik Sulaiman meracau dengan suara merintih bergetar saat melihat bayangan Arini.

Ia menunjuk wajah Arini dengan jari keriput yang gemetar hebat ketakutan. "Siapa kau?! Kau Harun, kan? Kau disuruh anak-anakku yang tidak tahu diuntung itu untuk merampok saham di dalam brankasku, iya kan?! Pergi! Pergi kamu dari sini, pembunuh kotor!"

Sulaiman berteriak histeris, menendang-nendang udara kosong seakan diserang setan. Tarikan paniknya membuat jarum selang infus dan kantong transfusi darah tercabut paksa dari lengannya. Darah segar mulai merembes dan menetes membasahi lantai pualam putih rumah sakit.

Arini terpaku di tengah ruangan, tak mampu menggerakkan otot kakinya maupun memanggil suster. Jantungnya serasa dihantam godam besi.

Melihat pria yang menjadi arsitek bisnis paling bengis di Indonesia—sosok penguasa mutlak yang selama ini sangat ia benci, ia takuti, dan sekaligus ia hormati secara profesional karena kekejamannya—kini hancur menjadi seonggok daging tua renta yang memakan kotoran kepikunannya sendiri, sungguh merupakan pemandangan yang menghancurkan batin reinkarnasi Sekar.

Dendam yang telah ia rawat bertahun-tahun seolah kehilangan validitasnya, karena targetnya bahkan tak lagi mengingat dosa-dosanya sendiri. Sulaiman kehilangan akal sehatnya justru tepat di detik-detik menjelang garis akhir kemenangan mereka melawan anak-anaknya.

Arini menelan ludah, mematikan kembali lampu kamar agar Sulaiman yang meracau di lantai menjadi tenang dalam kegelapan. Ia menyadari satu realitas peperangan brutal yang kini menunggunya dengan mulut menganga lebar.

Besok pagi adalah RUPS penentuan takhta tertinggi Mahkota Financial Holding.

Dan kini, karena Sulaiman "gila", Arini harus menghadapi liarnya serigala-serigala dari faksi Bambang Mahkota sendirian di arena, tanpa tameng hukum, tanpa perlindungan politik, dan tanpa legitimasi mutlak dari tanda tangan sang Raja Tua.