Episode 11: Kabut di Ujung Monas
Chapter 3: Alibi Transaksi Pasar Seni Ancol
Lokasi: Lorong Rumah Sakit & Galeri Seni
Waktu: Dini Hari
Di luar ring rumah sakit, Jaksa Mita bergerak sangat cepat. Memanfaatkan koneksi bawah tanah dan intelijen kejaksaan, ia membantu Arini dari balik bayang-bayang hukum. Dari hasil penggeledahan mendadak di rumah kontrakan kumuh milik mendiang Harun sang sopir truk pembunuh, polisi menemukan sebuah petunjuk gila.
Harun, yang berstatus pelarian dan seharusnya kesulitan likuiditas uang tunai, mendadak tercatat mencairkan selembar Cek Perjalanan (Traveler's Cheque) senilai Rp2 Miliar rupiah. Transaksi bernilai fantastis itu dicairkan dengan modus transaksi pembelian fiktif di sebuah galeri seni kecil yang sepi di kawasan Pasar Seni Ancol.
Mita menyamar dengan pakaian sipil dan mendatangi galeri tersebut sebelum matahari terbit. Insting jaksanya membongkar kebusukan pencucian uang (Tindak Pidana Pencucian Uang/TPPU) kelas teri itu: Cek miliaran tersebut digunakan untuk 'membeli' sebuah lukisan maestro Affandi palsu (replika) yang harganya sengaja digelembungkan gila-gilaan tak masuk akal.
Pelacakan nomor seri bank lebih dalam menemukan fakta krusial: pemilik asli entitas pencetak cek perjalanan itu mengarah pada sebuah perusahaan cangkang ( shell company ) di Singapura, yang secara administrasi terafiliasi kuat dengan nama istri dari Haikal Mahkota.
Mita kembali ke Rumah Sakit Medistra malam itu juga, menarik Arini secara rahasia ke sudut koridor tangga darurat yang sepi, jauh dari pantauan pengawal Bimo.
"Arini, dengarkan aku. Ini sudah masuk ranah pidana pembunuhan berencana kelas berat. Ini bukan lagi tentang sekadar perang bisnis dan kudeta saham," desak Mita dengan nada tegang, menunjukkan bukti salinan cek.
"Haikal dan Bambang Mahkota nekat menggunakan dana taktis dari yayasan amal sosial keluarga mereka murni untuk mendanai uang muka pembunuhanmu dan ayahmu!" cecar Mita kesal. "Aku bisa menerbitkan surat panggilan penyidikan resmi besok pagi. Tapi masalahnya, faksi Bambang Mahkota sore tadi baru saja menyuap dan membangun koneksi politik kuat dengan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus yang baru di kantorku. Jika aku menyerang mereka pakai dokumen ini sekarang, aku akan dipecat karena melangkahi wewenang atasanku!"
Arini tersenyum tipis. Matanya berkilat memancarkan taktik kejam yang melampaui birokrasi kejaksaan Mita.
"Jangan pernah panggil mereka ke meja kejaksaan, Mita," bisik Arini dingin. "Biarkan jejak cek itu tetap bersembunyi aman di laci mejamu. Jika hukum negara sudah dibeli oleh mereka, maka aku yang akan mengeksekusi mereka dengan tanganku sendiri. Aku akan membantai mereka secara korporat... tepat di tempat yang paling mereka puja, mereka agungkan, dan mereka takuti."
"Dimana?"
"Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, dua hari lagi," tandas Arini.