Episode 11: Kabut di Ujung Monas
Chapter 2: Sandiwara ICU Medistra dan Burung Bangkai yang Berkumpul
Lokasi: Rumah Sakit Medistra
Waktu: Malam Hari, Pasca Kecelakaan
Hanya dalam waktu satu jam, Rumah Sakit Medistra langsung dikepung dan diblokade total oleh barisan rapat puluhan pengawal bersenjata rahasia dari Garam Capital.
Di bawah arahan Arini, Bimo membocorkan sebuah berita palsu yang sengaja diledakkan ke berbagai stasiun televisi berita nasional malam itu juga. Headline pita berjalan (ticker) di layar kaca sangat bombastis: "Krisis Nasional: H. Sulaiman Kritis, Konglomerat Terbesar Indonesia Berada di Ambang Kematian Akibat Tabrakan Maut."
Di lobi utama rumah sakit yang megah, suasana mendadak berubah menjadi panggung sandiwara politik keluarga yang memuakkan.
Bambang Mahkota, sang putra sulung sekaligus dalang utama pembunuhan, datang berlari dengan raut wajah terguncang dan berlinang air mata buaya di depan kamera jurnalis. Sementara itu, anaknya, Haikal Mahkota, tidak membuang waktu bermain teater murahan. Ia berdiri di sudut koridor sayap barat yang remang, sibuk menelepon para pemegang saham sekutu mereka dengan nada suara mendesak dan beringas.
"Kakek belum menandatangani akta final pembentukan dan serah terima Mahkota Financial Holding secara legal," bisik Bambang tajam kepada Haikal, memastikan tak ada mata-mata Arini yang mencuri dengar.
"Jika orang tua bangka itu benar-benar mampus malam ini, kita akan blokir dan batalkan pendaftaran holding itu besok pagi melalui pengadilan sengketa waris," lanjut Bambang berapi-api. "Setelah itu, tanpa perlindungan legal kakekmu, kita akan cabik-cabik dan preteli saham retail yang dipegang si anak pelayan Arini itu sampai berkeping-keping di meja hijau!"
Namun, kenyataan di lantai teratas (kamar perawatan) sangat berbeda dari berita yang disebarkan.
Di dalam kamar VVIP yang terisolasi super ketat dan kedap suara, H. Sulaiman sama sekali tidak koma. Sang Raja Tua itu duduk tegak bersandar di atas ranjang rumah sakitnya. Perban tebal memang melilit kepalanya, namun napasnya memburu menahan murka yang tak terperi karena putra sulungnya sendiri baru saja mencoba membunuhnya di jalan raya.
Di depannya, Arini berdiri dengan postur tegap dan tatapan sedingin gletser kutub.
"Mereka tidak lagi menginginkan takhtamu dan menunggu kau mati perlahan, Tuan Besar. Mereka menginginkan nyawamu dicabut paksa hari ini," ucap Arini dengan nada datar.
"Kita akan menggunakan umpan ini secara maksimal," lanjut Arini, matanya memancarkan taktik kejam. "Biarkan dunia dan pasar modal mengira Tuan Besar sedang sekarat tanpa harapan hidup. Dan mari kita duduk di sini sambil menonton dengan saksama... siapa burung bangkai pengkhianat yang paling pertama terbang membawa draf kertas pembagian warisan ke pintu rumah sakit ini."