Episode 11: Kabut di Ujung Monas
Chapter 1: Skenario Tameng Hidup di Semanggi
Lokasi: Persimpangan Semanggi
Waktu: Hari Kecelakaan (Lanjutan)
Sebuah dengung melengking bernada sangat tinggi (tinnitus) merobek gendang telinga Arini, menenggelamkan segala suara di sekitarnya. Perlahan, kepulan asap hitam pekat dan kobaran api yang membakar aspal basah di persimpangan Semanggi mulai terlihat merayap dari balik kaca mobil berlapis baja yang retak seribu.
Mobil Volvo hitam yang membawa Arini dan H. Sulaiman ringsek parah di bagian samping kanan, membentur trotoar pembatas jalan. Namun, keajaiban aneh berpihak pada mereka berdua. Mereka selamat dari maut yang seharusnya mutlak.
Kilas balik tiga detik sebelum benturan mematikan itu terjadi, intuisi dan memori mengerikan Arini sebagai mantan fixer (Sekar) bekerja dengan kecepatan di atas logika manusia normal. Tepat ketika matanya menangkap laju buta truk tangki maut yang dikemudikan Harun, Arini meraih walkie-talkie di samping kursinya dan meneriakkan satu perintah mutlak ke mobil pengawal di barisan depan.
Seno, kepala pengamanan Garam Capital—mantan perwira intelijen militer yang secara khusus direkrut Arini—langsung bertindak tanpa ragu sepersekian detik. Ia membanting setir mobil jeep SUV tempur yang dikendarainya secara ekstrem. Seno memotong paksa jalur truk tangki tersebut, dan menjadikan mobilnya sendiri sebagai tameng hidup baja tepat sebelum moncong truk itu menggilas telak ruang penumpang Volvo Arini.
Jeep pengawal itu hancur total bak kaleng aluminium yang dilindas, langsung memicu ledakan beruntun yang menghentikan laju momentum mematikan truk tangki tersebut. Sang eksekutor bayaran, Harun, tewas seketika di tempat dengan batang setir baja menembus rongga dadanya.
Kini di lokasi kejadian, saat tim keamanan taktis Garam Capital mengevakuasi titik krisis, mereka menggeledah kasar tubuh kaku Harun.
Bimo yang tiba belakangan merogoh saku dalam jaket kulit Harun. Ia menemukan selembar manifes cetak yang berisi jadwal perjalanan harian pribadi H. Sulaiman yang sangat rahasia (Ring 1). Bukti itu menjadi konfirmasi mutlak tak terbantahkan bahwa kecelakaan ini bukanlah musibah rem blong, melainkan sebuah eksekusi terencana tingkat tinggi dari orang dalam faksi Mahkota sendiri.
Arini, yang kepalanya berdarah, dipapah keluar oleh Bimo. Ia menatap nanar kobaran api yang melahap jasad Harun. Garis waktu telah bergeser lagi. Pengetahuannya tentang masa depan berhasil dibelokkan sepersekian detik oleh insting militernya. Namun, ia sadar, genderang perang darah yang sebenarnya baru saja ditabuh malam ini.