Episode 10: Pengambilalihan Paksa
Chapter 6: Garis Takdir yang Menagih Nyawa
Lokasi: Jalur Protokol Sudirman & Persimpangan Semanggi
Waktu: Keesokan Harinya, Siang Hari Hujan
Keesokan harinya. Di penghujung tahun 2000.
Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca anti-peluru mobil Volvo hitam mewah yang melaju membelah ibu kota. Arini duduk diam berdampingan dengan H. Sulaiman di kursi belakang, melintasi Jalur Protokol Sudirman menuju sebuah hotel bintang lima elit tempat konferensi pers suksesi Mahkota digelar.
Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat sunyi, kaku, dan menyesakkan dada.
Tiba-tiba, tanpa ada pemicu apa pun, rasa pening yang luar biasa parah menghantam tengkorak kepala Arini. Pandangannya berbayang, berputar liar. Ingatannya sebagai 'Sekar' mendadak bereaksi tanpa kendali, menampilkan lembar demi lembar arsip digital masa depan yang selama ini seolah sengaja dikunci rapat oleh waktu.
Di dalam alam bawah sadarnya, Sekar melihat sebaris teks headline berita kematian dari arsip koran usang di lini masa aslinya:
"Oktober 2000: Arini Mahkota, putri bungsu rahasia H. Sulaiman, ditemukan tewas mengenaskan dalam kecelakaan fatal di persimpangan Semanggi. Kasus ditutup oleh kepolisian dengan alasan rem blong."
Mata Arini langsung membelalak penuh horor. Darahnya membeku. Jantungnya berpacu gila-gilaan menghantam tulang rusuknya.
Kematian Arini yang asli di lini masa ini bukanlah akibat diserempet kontainer di Cikini dua minggu lalu... melainkan terjadi hari ini! Di jalur lalu lintas ini! Di persimpangan jalan ini!
Ternyata, pengetahuan masa depannya selama ini memang sukses membantunya bermain Tuhan mengubah urutan kejadian bisnis, tetapi sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menghapus takdir absolut perihal waktu dan tempat kematian fisik tubuh ini.
"Tuan Besar... suruh sopir berhenti dan menepi sekarang juga," bisik Arini dengan wajah pucat pasi bak mayat. Tangannya gemetar hebat mencengkeram erat sandaran kursi depan.
H. Sulaiman menoleh dengan kening berkerut bingung, setengah pikun. "Ada apa denganmu, Arini? Kita sudah hampir sampai di persimpangan Semanggi."
Semuanya terlambat.
Waktu menagih janjinya.
Tepat saat bodi panjang Volvo hitam itu melintasi tengah persimpangan lampu merah Semanggi yang sedang sepi, dari arah kanan flank jalan (titik buta), sebuah truk tangki bahan bakar berukuran raksasa melaju membabi buta dengan kecepatan mematikan. Truk maut itu sama sekali tidak mengerem, menerobos lampu merah dengan sengaja, dan langsung mengarah bagai torpedo baja tepat ke arah pintu samping belakang tempat Arini duduk.
Waktu seakan berjalan melambat menjadi pecahan sekon (slow-motion).
Mata Arini terkunci ngeri pada moncong besi truk raksasa yang merefleksikan sorot lampu kematian. Melalui kaca depan truk yang kotor oleh sapuan wiper, Arini bisa melihat dengan jelas wajah sang pengemudi pembawa maut yang dibayar oleh faksi Bambang Mahkota itu.
Dia adalah Harun. Mantan kepala keamanan bayaran kepercayaan Tuan Besar sendiri yang mengkhianati tuannya.
Brakkkkkkkkk!!!!!!!
Benturan logam yang memekakkan telinga menghancurkan seluruh sisi bodi Volvo berlapis baja itu bak kaleng kerupuk. Kendaraan mewah itu terlempar ke udara dan terguling hebat di atas aspal basah. Pecahan kaca beterbangan ke segala arah dalam putaran yang sangat mengerikan, mencabik apa saja di dalam kabin penumpang, sebelum akhirnya... seluruh pandangan, rencana, dan kesadaran Arini ditarik paksa ke dalam kegelapan tanpa batas.
Hitam total.