Episode 10: Pengambilalihan Paksa
Chapter 5: Pengakuan di Ruang Singa Tua
Lokasi: Pendopo Gelap Istana Mahkota
Waktu: Malam Hari, Akhir 2000
Malam harinya pasca-hancurnya faksi Hendrawan, H. Sulaiman secara khusus memanggil Arini menemuinya empat mata. Bukan ke ruang kerja, melainkan ke pendopo kayu di taman belakang Istana Mahkota.
Fisik sang Raja Tua di atas kursi roda itu tampak semakin hari semakin rapuh. Tangannya terus bergetar hebat tak terkendali dimakan usia dan penyakit Vaskular Dementia. Namun secara mengejutkan, di tengah reruntuhan faksi anak-anaknya, senyum kemenangan tipis justru terukir di wajah Sulaiman yang penuh keriput.
"Kamu telah melumpuhkan paman-pamanmu dan membakar faksi Herlina serta Hendrawan dari bumi ini, tanpa perlu menembakkan satu butir peluru pun dari moncong senjatamu, anakku," bisik Sulaiman, suaranya terputus-putus dan serak.
Ia menatap Arini dengan bangga yang menyesatkan. "Bambang mengira dia bisa dengan mudah menjatuhkan dan membekukanmu lewat penggiringan opini media kacangan... tapi dia sama sekali tidak tahu, bahwa sore ini aku diam-diam sudah memindahkan hak veto utama Mahkota Financial Holding secara rahasia ke tanganmu."
Arini tertegun kaget. Otak reinkarnasinya berputar cepat mencari celah dan makna jebakan psikologis ini.
"Kenapa Anda melakukan ini?" selidik Arini curiga, matanya menyipit waspada. "Anda tahu dengan jelas sejak awal bahwa motif terbesarku adalah ingin menghancurkan nama Mahkota dan memenjarakan kalian semua. Kenapa menyerahkan takhta itu kepadaku?"
H. Sulaiman tertawa kecil. Suara tawanya terdengar sangat kering, berderak menyeramkan bagai gesekan ranting pohon mati di tengah badai.
"Karena sebuah dinasti raksasa, betapapun korupnya ia... selalu membutuhkan seekor singa yang sangat kejam agar tetap bisa berdiri tegak, Arini. Dinasti tidak akan bertahan jika dipimpin oleh sekumpulan domba penakut dan bodoh seperti anak-anakku yang lain," jelas Sulaiman perlahan.
Mata rabun sang Patriark menatap lurus menembus jiwa Arini.
"Kau memiliki seluruh keserakahan, dinginnya hati, dan kelicikan sosiopat yang persis sama denganku... anak bungsuku," aku Sulaiman. "Besok pagi, di konferensi pers penunjukan CEO Holding, aku sendiri yang akan mengumumkan namamu di depan media sebagai pewaris mutlak takhta Grup Mahkota."