Kembali ke Daftar Isi

Episode 10: Pengambilalihan Paksa

Chapter 4: Skandal Ambruknya Bank Nusantara Sentosa

Lokasi: Ruang Trading Garam Capital & Bank Indonesia
Waktu: Kuartal Akhir 2000

Arini tidak mau membuang waktu bersikap defensif menunggu diselidiki oleh Bapepam. Pertahanan terbaik adalah serangan membabi buta.

Berdasarkan basis data sejarah yang dibawa reinkarnasi Sekar dari masa depan mengenai sejarah krisis perbankan kelam akhir tahun 2000, ada sebuah peristiwa krusial yang luput dari perhatian media publik namun daya hancurnya sangat mematikan: Skandal penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) gelombang kedua. Skandal ini umumnya terjadi di bank-bank swasta gurem yang diam-diam berafiliasi dengan kroni konglomerat besar.

Arini mengetahui sebuah rahasia fatal tersebut. Faksi Hendrawan Mahkota (anak kedua Sulaiman yang pernah terjebak membeli tanah Jonggol) secara diam-diam menyembunyikan sisa dana operasional kotor miliknya di sebuah bank swasta gurem bernama Bank Nusantara Sentosa (BNS).

Tanpa ampun sedikit pun, Arini berdiri di ruang trading. "Bimo, eksekusi sekarang," perintahnya.

Sesuai instruksi Arini, Bimo menarik keluar seketika seluruh deposit likuiditas cadangan sekunder Garam Capital yang memang sengaja dititipkan Arini di bank BNS sebagai bom waktu sejak tahun lalu.

Penarikan dana tunai raksasa secara serentak dan tiba-tiba itu langsung memicu efek domino kepanikan likuiditas (bank rush korporat) pada BNS yang sudah sakit-sakitan.

Hanya dalam waktu tiga hari, BNS gagal kliring. Mereka kolaps total dan dinyatakan beku operasi oleh Gubernur Bank Indonesia.

Seluruh dana taktis operasional bernilai triliunan rupiah milik faksi Hendrawan Mahkota yang terparkir di sana tertahan (di- freeze) dan hangus seketika tanpa sisa.

Dua faksi anak sah H. Sulaiman—yaitu faksi Herlina dan faksi Hendrawan Mahkota—kini resmi berhasil dilumpuhkan secara total hingga hancur berkeping-keping menjadi abu hanya dalam waktu singkat oleh sang algojo.

Kini, di atas papan catur yang berdarah itu, hanya tersisa bidak faksi Bambang Mahkota dan cucu kesayangannya, Haikal Mahkota, yang menghalangi jalan buntu Arini menuju takhta absolut Mahkota.