Episode 10: Pengambilalihan Paksa
Chapter 3: Logika vs Nurani Jaksa Mita
Lokasi: Kantor Garam Capital
Waktu: Keesokan Harinya
Ancaman pemotongan kaki itu datang bukan hanya dari bursa saham, melainkan langsung dari meja hukum.
Jaksa Mita mendatangi kantor Garam Capital dengan wajah tegang yang menyembunyikan kelelahan luar biasa. Tanpa basa-basi menyapa, ia melempar kasar sepucuk surat perintah penyelidikan berlogo Kejaksaan Agung tepat ke atas meja kerja Arini.
"Aku tahu kamu sengaja membersihkan Bibi Herlina tempo hari karena dia korup, Arini," seru Mita dengan suara tertahan. "Tapi manipulasi pasar gila-gilaan yang kamu lakukan di saham Delta Swadaya ini sudah kelewatan batas kemanusiaan! Banyak rakyat kecil yang ikut rugi di bursa!"
Arini hanya duduk diam, memandang dokumen surat penyidikan itu.
"Publik sedang panik luar biasa," lanjut Mita. "Atasanku di Kejaksaan Agung terus ditekan dan dilobi secara politis oleh pamanmu sendiri, Bambang Mahkota, untuk memeriksa seluruh aliran dana transaksimu. Aku tidak bisa menahan dan melindungimu lagi, Arini."
Arini sama sekali tidak gentar. Dengan gerakan perlahan dan anggun yang membuat Mita muak, Arini menuangkan secangkir teh panas dan menyodorkannya ke hadapan sang jaksa muda.
"Duduklah, Mita," ucap Arini dengan nada datar. "Coba kamu putar ingatanmu ke krisis 1998 dua tahun lalu. Siapa konglomerat yang paling kotor 'menggoreng' saham-saham perbankan sampai puluhan ribu rakyat kecil kehilangan seluruh tabungan dan tanah mereka? Mereka. Keluarga Mahkota. Aku di sini hanya meminjam pisau berkarat yang biasa mereka pakai untuk menyayat punggung rakyat, dan kuarahkan pisau itu ke leher mereka sendiri."
Arini mendongak menatap mata Mita lekat-lekat. "Apakah kamu benar-benar akan membela sistem hukum prosedural yang kaku ini, yang justru terbukti hanya melindungi para penjahat lama ini dari keadilan?"
Mita mencengkeram erat tepi meja kerja Arini. "Aku tidak sedang membela mereka, Arini! Tolong sadarlah, aku sedang mengkhawatirkan kewarasanmu!"
Suara Mita mulai bergetar karena ia sangat menyayangi sahabatnya ini. "Jika kamu terus nekat melangkah ke arah jurang kegelapan ini demi balas dendam pada ayahmu, kamu tidak ada bedanya dengan dia. Kamu perlahan-lahan berubah menjadi monster berdarah dingin yang justru ingin kamu hancurkan."
Arini terdiam sesaat. Tatapannya menembus Mita, memperlihatkan sorot mata sedalam sumur tua yang tak lagi bisa diselamatkan.
"Bedanya adalah, Mita..." jawab Arini dingin, "aku tahu persis kapan aku harus berhenti. Dan aku tahu bagaimana cara mengembalikan uang rakyat yang dirampok Mahkota. Sebuah pertanggungjawaban... yang tidak akan pernah dilakukan oleh Tuan Besar walau kiamat tiba. Silakan jalankan penyidikanmu. Waktuku di sini sudah hampir habis."