Kembali ke Daftar Isi

Episode 10: Pengambilalihan Paksa

Chapter 2: Manuver Licik Bambang Mahkota

Lokasi: Jalanan Jakarta (Di dalam Sedan Hitam Bambang Mahkota)
Waktu: Malam Hari, Pascakejadian

Kehilangan lini ritel secara tiba-tiba akibat ulah Arini membuat faksi anak sulung—Bambang Mahkota dan anaknya, Haikal Mahkota—merasa sangat terpojok. Kini porsi kekuasaan di meja makan telah bergeser ke tangan anak bungsu yang tak diundang.

Di dalam kabin mobil sedan hitam pribadinya yang melaju menembus malam yang gerimis, Bambang mencengkeram kemudi kulitnya dengan kemarahan yang meluap-luap hingga buku jarinya memutih.

"Anak haram rahasia Tuan Besar yang menjijikkan itu... dia sudah merebut Bank BAM dan seluruh jaringan ritel kita," geram Bambang, menginjak pedal gas lebih dalam. "Kalau kita diam saja mengamatinya, gadis pelayan itu akan menelan seluruh sisa Mahkota hidup-hidup dari dalam."

Haikal Mahkota menatap ayahnya dari kursi penumpang dengan tatapan yang memancarkan kelicikan berbisa. Kekalahan telaknya di malam pesta pernikahan masih membakar dadanya.

"Ayah... Tuan Besar sedang menyiapkan pembentukan Mahkota Financial Holding untuk menyatukan seluruh modal anak perusahaan," ucap Haikal dengan nada rendah. "Siapa pun yang ditunjuk oleh kakek untuk memimpin perusahaan induk (holding) itu, otomatis akan menguasai seratus persen dinasti ini secara legal. Kita harus memotong kaki Arini sebelum dia sempat menginjakkan kakinya di kursi CEO holding itu."

Bambang mengangguk setuju. Otak kelicikannya berputar. Ia segera menggunakan sisa-sisa pengaruh korporasinya yang masih kuat untuk mendekati kartel media massa cetak dan elektronik lama.

Keesokan harinya di pembukaan bursa, Bambang meluncurkan serangannya. Ia membayar puluhan koran nasional dan pengamat ekonomi untuk menyebarkan "rumor hitam" secara masif di pasar modal: Bahwa Garam Capital telah melakukan praktik kejahatan Insider Trading (pembocoran informasi orang dalam) secara brutal yang memicu kejatuhan tragis saham Delta Swadaya Kapital.

Isu kotor yang digoreng media ini langsung memicu kepanikan liar di Bursa Efek Jakarta. Ribuan investor ritel lokal yang merugi mulai menuntut transparansi, berdemonstrasi kasar menuntut keadilan. Imbasnya sangat nyata: Garam Capital terancam diperiksa mendadak dan dibekukan rekening operasionalnya oleh otoritas Bapepam.