Episode 10: Pengambilalihan Paksa
Chapter 1: Pecahnya Aliansi dan Dokumen 1987
Lokasi: Ruang Makan Istana Mahkota
Waktu: Malam Hari, Melanjutkan Episode Sebelumnya
Ruang makan privat Istana Mahkota mendadak sedingin kuburan. Kehadiran mantan narapidana dari Cipinang yang merupakan ayah angkat Arini, yang membawa sebuah peti kayu kecil terkunci di pangkuannya, seketika meruntuhkan pertahanan mental H. Sulaiman.
Bibi Herlina Mahkota, yang akal sehatnya sudah berada di ambang kehancuran akibat disita hartanya oleh Margin Call Garam Capital, mencoba merebut peti kayu itu dengan kasar.
"Mantan sopir kriminil! Berani-beraninya kamu masuk dan membawa sampah ke rumah ini untuk memeras kami?!" teriak Herlina histeris, wajahnya merah padam.
"Diam, Herlina!" bentak H. Sulaiman. Suaranya yang parau bergetar hebat memecah ruangan, memaksakan otoritas terakhirnya.
Sang Raja Tua menatap mantan sopirnya itu dengan mata yang mulai digerogoti kepikunan vaskular, namun memori kelam dan ketakutan lama yang terkubur di benaknya mendadak bangkit seutuhnya.
Ayah angkat Arini yang duduk lemas di kursi roda tua tidak gentar. Dengan tangan yang penuh bekas penyiksaan sipir, ia membuka gembok peti kayu tersebut dengan tenang. Jemarinya mengeluarkan sebuah manifes pembukuan tebal bertuliskan tinta biru yang sudah mulai memudar.
"Tuan Besar Sulaiman... saya membusuk di penjara isolasi seumur hidup bukan karena saya setia pada Anda," ucap ayah Arini, suaranya serak namun menggema penuh tuntutan dendam. "Saya dipenjara karena Anda mengancam akan melenyapkan nyawa Arini yang saat itu masih berumur sepuluh tahun."
Pria tua itu mengangkat dokumen tersebut tinggi-tinggi.
"Dokumen yang saya pegang ini mencatat aliran dana transfer ganda tak terbantahkan. Catatan bahwa 500.000 hektar lahan sawit pertama Mahkota di Riau, dibeli murni menggunakan dana talangan BLBI fiktif dari negara atas nama saya," bongkarnya. "Jika Kejaksaan membuka ini besok pagi... seluruh aset hulu Mahkota tidak hanya akan bangkrut, tapi akan disita total oleh negara sebagai aset korupsi, dan Anda akan mati di sel yang sama denganku."
Arini maju selangkah, menatap ayah biologisnya, Sulaiman, tanpa menyisakan seulas pun rasa kasihan di matanya.
"Rapat Umum Pemegang Saham luar biasa diputus secara aklamasi malam ini juga, Tuan Besar," ucap Arini sedingin es. "Pecat Bibi Herlina, lalu jalankan sita jaminan atas sisa saham retailnya. Atau... biarkan anak buah Jaksa Mita yang menunggu di luar sana membawa dokumen asli ini ke meja pengadilan."
Tersudut tanpa ada satu pun opsi lari, dengan tangan gemetar hebat menahan amarah dan kekalahan telak, H. Sulaiman menandatangani memorandum pemecatan anak perempuannya sendiri malam itu juga.
Namun di lembar berikutnya, Sulaiman dipaksa menelan pil yang jauh lebih pahit: ia harus menandatangani akta pengakuan anak kandung biologis dan pengesahan pergantian nama menjadi "Arini Mahkota" di hadapan notaris keluarga yang berjaga.
Dokumen terakhir itulah kunci pamungkasnya. Dokumen itu secara hukum membuat Arini sah dan legal 100% untuk menerima limpahan saham warisan, hak veto dewan, serta jabatan eksekutif di perusahaan induk, Mahkota Financial Holding.
Bibi Herlina Mahkota menjerit pilu lalu jatuh pingsan di atas lantai marmer. Ia kemudian diseret keluar oleh petugas keamanan seperti seonggok sampah tak bernilai. Malam itu, lini bisnis ritel raksasa Mahkota resmi runtuh, berpindah tangan secara absolut ke bawah kendali Arini dan Garam Capital.