Kembali ke Daftar Isi

Episode 9: Jebakan Gelembung Milenium

Chapter 6: Menagih Kepala Sang Bibi

Lokasi: Ruang Makan Istana Mahkota
Waktu: Malam Harinya

Malam harinya, kehancuran dan drama memalukan itu diseret ke dalam ruang makan privat Istana Mahkota.

Bibi Herlina Mahkota berlutut tersedu-sedu di atas hamparan karpet persia dan lantai marmer dingin. Ia menangis memohon dengan sangat agar H. Sulaiman bersedia mencairkan dana talangan darurat miliaran rupiah dari kas inti Mahkota untuk menyelamatkannya dari jeratan penjara dan membayar uang ganti rugi Jaksa Mita.

Di kursi makan mereka masing-masing, Bambang Mahkota dan Hendrawan Mahkota hanya diam menyesap cerutu dan anggur merah. Mereka saling melempar senyum sinis yang ditutupi, sangat puas melihat saudari perempuan mereka hancur berkeping-keping; itu berarti berkurangnya satu faksi besar saingan dalam perebutan harta takhta Mahkota.

Tepat pada momen yang sangat merendahkan martabat keluarga itu, pintu ganda ruang makan terbuka lebar.

Arini melangkah masuk dengan tenang bagai malaikat maut. Di tangannya, ia memegang sepucuk surat bermeterai—bukti resmi "janji satu permintaan tanpa bantahan" yang ia peroleh dari H. Sulaiman saat menyelamatkan bank di malam pergantian milenium Y2K.

"Tuan Besar, saya datang malam ini untuk menagih janji Anda," ucap Arini. Suara altonya menggema memotong isak tangis Herlina, membuat seisi ruangan mendadak senyap.

H. Sulaiman yang daya pikirnya sedang menurun mendongak dengan napas berat. "Apa... apa yang kau inginkan dari Mahkota, Arini?"

Tanpa ragu sedetik pun, Arini mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke arah Herlina Mahkota yang bersujud memelas.

"Saya meminta Anda untuk mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa besok pagi," desis Arini tanpa ampun. "Pecat Herlina Mahkota secara tidak hormat dari kursi CEO, dan serahkan seluruh sisa hak kelola ritel yang tersisa beserta asetnya... mutlak kepada Garam Capital."

Mendengar itu, Herlina mendongak, wajahnya dipenuhi maskara luntur. Matanya memerah beringas. Ia berteriak histeris, "Anak sopir gila! Kamu tidak punya hak mengusir darah daging Mahkota! Laporan kejaksaan busuk itu masih bisa dibatalkan praperadilannya oleh pengacara-pengacara ayahku!"

Arini tidak membalas makian kasar tersebut. Ia hanya mengukir senyum sangat dingin dan tipis, lalu perlahan menolehkan pandangannya ke arah pintu masuk ruang makan.

Pintu yang tadi setengah tertutup itu kini didorong terbuka sepenuhnya.

Orang-orang di ruangan itu mengira Jaksa Mitalah yang muncul membawa surat perintah penahanan untuk Herlina. Namun, sosok yang melangkah perlahan masuk ke ruangan—didorong di atas kursi roda lusuh oleh Bimo—sukses membuat jantung Arini berdetak kencang bahagia, sekaligus membuat jantung H. Sulaiman dan Herlina seakan berhenti berdetak ngeri pada detik itu juga.

Itu adalah ayah angkat Arini. Sang mantan sopir setia yang seharusnya membusuk di sel isolasi atau pulau eksekusi Nusakambangan. Bimo berhasil mencegah pemindahan paksa itu melalui operasi penyuapan balik (sogokan level tinggi) kepada jaringan sipir bawah tanah pada menit-menit terakhir subuh tadi.

Wajah pria tua itu terlihat tirus, kurang gizi, dan dipenuhi luka siksaan pukulan keras selama belasan tahun di penjara. Tubuhnya mengenakan kemeja kebesaran. Namun, di atas pangkuan kakinya yang lemah, tangannya yang bergetar menggenggam erat sebuah benda yang menjadi mimpi buruk terburuk bagi Mahkota: Sebuah kaleng biskuit tua (Khong Guan) yang sudah berkarat.

"Beliau tidak datang untuk bernegosiasi soal saham busukmu, Herlina," ucap Arini, suaranya bergetar oleh kobaran dendam dan rasa sakit yang membakar seluruh oksigen di ruang makan itu. "Beliau datang membawa manifes asli aliran dana sawit tahun 1987 yang selama ini mati-matian kalian sembunyikan! Dan yang paling penting... di dalam kaleng itu, ada bukti resmi salinan laporan kepolisian yang asli... tentang kebenaran 'kecelakaan' lalu lintas... yang menewaskan ibu kandungku yang kau tabrak, Herlina!"

Mata H. Sulaiman membelalak teror. Napasnya tersengal-sengal menatap ayah angkat Arini dan kaleng biskuit itu. Sisa-sisa kewarasan dan pertahanan ingatan masa lalunya mendadak pecah berkeping-keping tak bersisa.

Herlina Mahkota menutupi mulutnya dengan kedua tangan, menjerit tertahan melihat dosa pembunuhannya di masa lalu bangkit dari kubur untuk mencekiknya. Panggung rahasia darah daging keluarga besar Mahkota akhirnya runtuh malam itu juga, dihancurkan oleh seorang pelintas waktu.