Kembali ke Daftar Isi

Episode 9: Jebakan Gelembung Milenium

Chapter 5: Konfrontasi Jaksa Mita

Lokasi: Gedung Departemen Store Mahkota & Lorong Sepi
Waktu: Keesokan Harinya

Pagi berikutnya, Gedung Departemen Store Mahkota mendadak dikepung oleh deretan mobil dinas Kejaksaan Agung yang membunyikan sirine. Operasi senyap telah digelar.

Jaksa Mita melangkah masuk dengan rompi kejaksaannya, memimpin puluhan pasukan penggeledahan dan penyitaan. Mita bergerak cepat setelah malam sebelumnya ia menerima paket anonim di rumahnya yang berisi bukti dokumen otentik penggelapan dana dan pemalsuan (window dressing) laporan keuangan yang baru saja ditandatangani Herlina Mahkota beberapa jam yang lalu.

"Ini fitnah keji! Kalian sengaja menyerang Mahkota karena dibayar lobi saingan bisnis!" jerit Herlina Mahkota dengan wajah pucat di hadapan kilatan blitz para jurnalis yang mengerumuninya, sementara tangannya diborgol.

Sementara penggeledahan riuh itu berlangsung di lobi utama, di ujung koridor lantai dua gedung yang sepi, Jaksa Mita memisahkan diri. Ia diam-diam bertemu dengan Arini yang sedari tadi bersandar di dinding, mengamati jatuhnya sang bibi dari kejauhan.

Mita melepas kacamatanya dan menatap Arini dengan pandangan tajam, dipenuhi campuran antara amarah, kengerian instingtif, dan kekecewaan mendalam terhadap sahabatnya itu.

"Paket bukti pemalsuan kas yang masih hangat itu... kamu yang mengirimnya ke rumahku semalam kan, Arini?" interogasi Mita sengit, menahan suaranya agar tak terdengar anak buahnya. "Kamu memanipulasi bandar saham, membuat DSK hancur untuk memaksa Herlina mencuri uang kantornya. Lalu kamu menggunakan lencanaku dan institusi kejaksaan ini sebagai tukang jagal untuk membersihkan asetnya demi keuntungan modalmu? Aku ini penegak hukum negara, Arini! Bukan pion pembunuh di atas papan catur pribadimu!"

Arini membalas tatapan sahabatnya itu tanpa berkedip, mati-matian menyembunyikan getaran hebat di dasar hatinya.

"Herlina Mahkota bukan sekadar mencuri uang kas, Mita," jawab Arini datar. "Dia mencuri dan menghancurkan nyawa banyak orang tanpa pernah tersentuh hukum. Aku hanya mengeksekusinya dengan cara yang paling terukur. Lagipula, fakta korupsinya nyata. Apakah menghancurkan monster yang kebal hukum membuat hukum kehilangan muruahnya?"

Mita melangkah maju dengan kasar, mencengkeram kerah jas putih Arini. Air mata kekecewaan merebak di sudut mata sang Jaksa muda yang sangat menjunjung idealisme itu.

"Jika suatu hari nanti terbukti lewat penyidikan bahwa firma investasi Garam Capital terlibat dalam skandal manipulasi pasar ini... aku bersumpah demi Tuhan, aku sendiri yang akan mencetak surat penangkapanmu. Kamu sedang menari di atas tepi jurang yang sangat gelap, Arini," desis Mita, suaranya bergetar hebat. "Jangan sampai ambisi gilamu ini membuatku harus mengakhiri persahabatan kita dan memenjarakanmu dengan tanganku sendiri."

Mita melepaskan cengkeramannya, membetulkan jasnya, lalu berbalik pergi meninggalkan Arini yang tertegun membeku dalam kesunyian koridor dingin. Kemenangan mutlak ini terasa seperti mengunyah serpihan kaca; Arini terjebak di persimpangan jalan antara mempertahankan sedikit nurani kemanusiaannya yang tersisa, atau menuntaskan balas dendam absolutnya terhadap pembunuh ibunya.