Episode 9: Jebakan Gelembung Milenium
Chapter 4: Kehancuran "Delta Swadaya Kapital"
Lokasi: Ruang Kerja Herlina & Kantor Garam Capital
Waktu: Kuartal Pertama Tahun 2000
Memasuki bulan-bulan pertama tahun 2000, di ruang kerjanya yang mewah, Bibi Herlina Mahkota tertawa puas, bersorak dalam kemenangan ilusinya.
Isu kencang Garam Capital tentang penggabungan bisnis retail dengan skema pembiayaan digital milenium, membuat harga saham PT Delta Swadaya Kapital Tbk (DSK) meroket gila-gilaan tak masuk akal. Saham gorengan yang mati-matian Herlina beli menggunakan uang gadai (Repo) itu telah menyentuh All Time High di harga pucuk kepalsuan.
Tergiur oleh keserakahan yang membutakan akal sehat—ia sangat ingin melampaui kekayaan dua saudara laki-lakinya secara instan—Bibi Herlina kembali bertindak fatal. Ia menjarah lagi sisa dana operasional kas Departemen Store Mahkota, lalu menjaminkan kembali seluruh sisa kepemilikan saham ritel Mahkota ke broker (yang diam-diam milik Arini) demi memborong habis saham DSK.
Di detik yang sama, di gedung kaca kantor Garam Capital, Arini berdiri tenang bagai dewa pencabut nyawa. Ia menatap pergerakan candlestick merah-hijau yang membumbung tinggi di layar komputer trading-nya.
"Harga sudah over-bought, Arini. Ini pucuk gelembung absolut," lapor Bimo yang berdiri di sebelahnya menahan napas.
"Banjiri pasar," perintah Arini tanpa emosi sedikit pun. Suaranya membelah keheningan ruangan. "Jual seluruh kepemilikan Garam Capital atas Delta Swadaya sekarang juga. Buat mereka banjir darah."
Sore itu, pasar modal Indonesia gempar bagai tersapu tsunami dari dasar laut. Garam Capital melakukan aksi jual masif nan brutal (dumping). Belum sempat investor lain bereaksi, kepanikan pasar diperparah oleh berita breaking news kilat dari Kejaksaan Agung (informasi yang dibocorkan Arini ke Mita) yang mengumumkan bahwa PT Delta Swadaya Kapital terindikasi kuat melakukan manipulasi laporan keuangan masif.
Dalam hitungan tiga jam sebelum bursa tutup, saham DSK terjun bebas ke jurang tanpa ada yang mau menadah, hingga harganya amblas jadi abu dan disuspensi (dihentikan paksa pencatatannya) oleh otoritas bursa. Harta investasi triliunan rupiah milik Herlina hangus jadi angka digital tak bernilai.
Brak! Prang!
Di ruangannya, Bibi Herlina Mahkota menjerit histeris. Ia melemparkan vas bunga antik dari Dinasti Ming ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Rambutnya berantakan ditarik oleh tangannya sendiri.
Dana operasional Departemen Store Mahkota amblas total, dicuri oleh kebodohannya. Dan karena ia menggunakan skema utang Repo, pihak broker langsung mengeksekusi Margin Call (sita jaminan paksa) detik itu juga. Seluruh saham mayoritas Departement Store Mahkota miliknya kini sah berpindah tangan ke Arini.
Dalam keputusasaan dan rasa takut diamuk ayahnya, Herlina Mahkota melakukan blunder terbesarnya: memanggil direktur keuangannya untuk membakar dan memalsukan (window dressing) buku kas guna menutupi lubang bolong miliaran tersebut dari audit internal keluarganya.