Kembali ke Daftar Isi

Episode 9: Jebakan Gelembung Milenium

Chapter 3: Detik-Detik Milenium dan Janji Singa Tua

Lokasi: Ruang Kontrol Pusat Data Bank BAM
Waktu: 31 Desember 1999, 23:55 WIB

Suasana di ibu kota terasa luar biasa mencekam, bercampur dengan riuh letusan kembang api perayaan yang mulai mewarnai langit malam.

Di dalam ruang kontrol server Pusat Data Bank BAM, suhunya dibuat sedingin kulkas. H. Sulaiman duduk sangat tegang di atas kursi rodanya, didampingi seluruh anggota inti keluarga besar Mahkota (Bambang, Hendrawan, Herlina, dan Haikal). Keringat dingin mengucur deras di dahi mereka saat detik-detik hitung mundur milenium dimulai di layar raksasa. Jika server meledak atau reset, jaminan asuransi Arini akan menyeret mereka ke jurang kehancuran.

Sepuluh detik terakhir.
3... 2... 1... 00:00.

Tahun 2000 tiba. Keheningan yang menakutkan melanda ruangan itu sesaat.

Namun, tidak terjadi kiamat. Lampu ruangan tidak padam. Layar-layar monitor komputer server berkedip pelan memuat data, lalu dengan sangat mulus dan normal menampilkan log timestamp: 01-01-2000. Saldo nasabah tetap utuh tak bergeser sesen pun.

Sorak-sorai kelegaan meledak di ruangan itu. Para teknisi bertepuk tangan berpelukan, sementara Bambang Mahkota merosot di kursinya saking leganya.

Strategi psikologis Mahkota Aman 2000 sukses mutlak. Keesokan harinya, kepercayaan publik yang tadinya hancur meroket tak terkendali. Saham Bank BAM (yang notabene dikuasai Arini) melesat naik tanpa rem (Auto Reject Atas) di pembukaan pasar perdana tahun 2000. Reputasi Mahkota sebagai entitas kebal krisis pulih total dalam semalam, dianggap sebagai konglomerasi paling kuat di era milenium baru.

Di tengah sorak-sorai keluarga besar Mahkota malam itu, Arini berjalan pelan mendekati H. Sulaiman yang terduduk lemas kehabisan tenaga. Sang Patriark tua, dengan sisa kewarasannya yang makin memudar, menatap mata Arini dan menyadari bahwa anak di luar nikah yang ia benci setengah mati ini, baru saja menyelamatkan nyawa kerajaannya... lagi.

"Tuan Besar berutang satu janji yang harus dilunasi padaku," bisik Arini lirih tepat di telinga Sulaiman, memastikan tidak ada pewaris lain yang mendengarnya.

H. Sulaiman hanya mengangguk pelan dengan raut wajah hancur dan kalah, menyadari bahwa cengkeraman tangan Arini di leher urat nadi finansial Mahkota kini telah terkunci selamanya.