Kembali ke Daftar Isi

Episode 9: Jebakan Gelembung Milenium

Chapter 2: Taruhan Jutaan Dolar di Atas Kepanikan Y2K

Lokasi: Ruang Rapat Utama Gedung Mahkota
Waktu: 30 Desember 1999

Suasana di ruang rapat utama Gedung Mahkota sangat mencekam. Para direktur senior dari faksi Bambang Mahkota dan Hendrawan Mahkota dilanda kepanikan luar biasa. Nasabah Bank BAM (yang mayoritas kepemilikannya dipegang oleh Garam Capital namun operasional hariannya masih diurus Mahkota) sedang berbondong-bondong menarik dana tunai mereka dalam jumlah masif akibat ketakutan terhadap rumor Bug Y2K.

Jika penarikan massal ini dibiarkan terus terjadi dua hari lagi, bank yang perlahan mulai bangkit itu akan kembali kolaps karena kehabisan likuiditas uang kartal.

Di tengah perdebatan sengit saling menyalahkan itu, pintu ganda ruang rapat menjeblak terbuka.

Arini melangkah masuk dengan setelan jas putih yang sangat elegan, mengejutkan seluruh paman dan kakaknya. Banyak dari mereka, termasuk Haikal Mahkota, mengira Arini masih terbaring sekarat membusuk di ranjang rumah sakit pasca-tabrakan.

Tanpa memedulikan tatapan murka dan kaget dari Haikal, Arini berjalan lurus ke ujung meja. Ia mengangkat tangannya dan melempar sebuah berkas proposal tebal tepat ke hadapan H. Sulaiman yang duduk gemetar di kursi rodanya.

"Garam Capital menawarkan injeksi program baru: Mahkota Aman 2000," tegas Arini memecah kesunyian dewan direksi. "Kita akan mengumumkan secara masif kepada publik bahwa Grup Mahkota, dengan di- back-up penuh oleh likuiditas Garam Capital, memberikan jaminan ganti rugi uang tunai 100% tanpa batas bagi seluruh nasabah Bank BAM dan pelanggan ritel, jika terjadi sedikit saja gangguan sistem saldo saat pergantian tahun."

Bambang Mahkota langsung menggebrak meja, urat lehernya menonjol kemerahan. "Gila kamu, anak pelayan! Kalau sistem server benar-benar jebol dan macet di malam tahun baru nanti, perusahaan ini bisa bangkrut dan berutang ribuan triliun dalam semalam!"

"Sistem tidak akan jebol, Paman. Ini bukan fiksi ilmiah," potong Arini dengan nada sangat merendahkan. "Rakyat awam hanya butuh kepastian semu untuk meredakan histeria. Jika Mahkota berani pasang badan dan memberikan asuransi jaminan moral itu sekarang, kita akan keluar sebagai pahlawan finansial paling kuat pasca-krisis 1998. Dan uang rakyat tidak akan lari ke mana-mana, justru akan mengalir deras ke bank kita."

H. Sulaiman, yang sedari tadi mati-matian meremas pahanya di bawah meja agar penyakit dementia dan tremor-nya tidak ketahuan oleh anak-anaknya, menatap Arini. Di balik matanya yang mulai rabun, sisa ketajaman insting predatornya bekerja. Ia menyadari manuver itu adalah perjudian all-in yang brilian.

"Lakukan kampanye itu," putus H. Sulaiman dengan suara seraknya, mengejutkan Bambang. "Jika strategi asuransi psikologis ini berhasil, Arini... aku akan mengabulkan satu permintaan khusus apa pun darimu tanpa bantahan."