Episode 9: Jebakan Gelembung Milenium
Chapter 1: Sisa Badai Cikini dan Jejak yang Dihapus
Lokasi: Kantor Garam Capital, VIP Bathroom
Waktu: Desember 1999
Kilatan petir menyambar di atas langit kelabu Jakarta pada penghujung Desember 1999. Langit berpadu dengan kepulan asap knalpot panser militer yang masih sesekali berpatroli menjaga sudut-sudut rawan kota pasca-tragedi Krisis 1998.
Di dalam kamar mandi VIP kantor Garam Capital, Arini berdiri membisu di depan cermin wastafel. Ia perlahan membuka syal sutra putih yang melingkari lehernya. Bekas luka operasi yang panjang dan mengerikan akibat kecelakaan maut di Cikini tempo hari itu masih tampak memerah—sebuah stempel abadi di kulitnya. Luka itu menjadi pengingat setiap kali ia bernapas bahwa H. Sulaiman, ayah biologisnya sendiri, baru saja mencoba menghapus nyawanya dari atas papan catur ini.
Pintu jati kamar mandi terbuka perlahan. Bimo melangkah masuk dengan napas memburu dan raut wajah frustrasi.
"Sipir Lapas Cipinang memindahkan mantan Jaksa Penuntut Agung itu ke Lapas Nusakambangan subuh tadi secara diam-diam, Arini," lapor Bimo, melemparkan map kosong ke atas kabinet wastafel. "Harun bergerak sangat rapi dan senyap. Semua jejak kunjunganmu kemarin telah dihapus bersih dari buku log komputer penjara. Tidak ada bukti kau pernah ke sana. H. Sulaiman berniat mengurung rahasia tahun 1987 itu selamanya di pulau eksekusi."
Arini memejamkan mata erat-erat. Ia membiarkan ingatan masa depannya (ketika ia menjadi Sekar) mengambil alih pusat kendali otaknya.
Dalam ingatannya, akhir tahun 1999 di Indonesia bukanlah sekadar masa transisi politik biasa. Ada sebuah kepanikan massal berskala global yang melanda dunia korporasi dan perbankan: Fenomena Y2K (Year 2000 Bug). Saat itu, isu liar menyebar bahwa seluruh sistem komputer logistik dan perbankan di seluruh dunia akan lumpuh total karena chip memori tidak bisa membaca pergantian angka tahun menjadi "00", yang berpotensi me-reset seluruh data saldo dan utang kembali ke tahun 1900. Masyarakat yang panik berbondong-bondong menguras tabungan mereka di bank (bank rush) dan menimbun sembako karena takut dunia akan kiamat secara finansial.
Arini membuka matanya. Kilatan taktik mematikan kembali memijar terang dari manik matanya.
"Kepanikan massal adalah komoditas terbaik yang bisa kita perjualbelikan di pasar bebas, Bimo," ucap Arini sedingin es, kembali melilitkan syal sutranya. "Jika H. Sulaiman ingin menghapus ingatan dunia tentang ayah angkatku, serta menutupi fakta bahwa Herlina adalah pembunuh ibuku yang asli... maka aku akan memaksanya mengingat siapa pemegang kendali keuangan yang sebenarnya di negara ini, lewat kepanikan pergantian milenium."