Episode 8: Membakar Jembatan
Chapter 5: Rahasia yang Terkubur di Balik Jeruji Cipinang
Lokasi: Ruang Kunjungan Khusus Lapas Cipinang
Waktu: Pagi Hari
Keesokan paginya, sementara bandar sahamnya sedang menghancurkan bibinya di bursa, Arini memfokuskan dirinya pada hal lain. Ia mengendarai mobilnya menuju Jakarta Timur, melangkah masuk ke dalam gerbang besi tebal nan intimidatif milik Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang.
Sesuai dengan arahan pesan SMS misterius yang menyelamatkan nyawanya sebelum kecelakaan, Arini berjalan mantap dan masuk ke ruang kunjungan khusus untuk tahanan korporasi berisiko tinggi.
Di balik kaca tebal pembatas yang buram dan penuh goresan, seorang pria tua dengan seragam narapidana berwarna biru lusuh sudah duduk menunggunya dengan postur bungkuk. Wajahnya dipenuhi keriput penyiksaan.
Pria itu perlahan mengangkat gagang telepon interkom ke telinganya. Arini melakukan hal yang sama.
"Kamu tumbuh menjadi wanita yang sangat menakutkan, Arini... persis seperti yang selalu ditakutkan oleh Sulaiman sejak kamu lahir," ucap pria tua itu mengawali pembicaraan. Suaranya serak, kering seperti daun gugur.
"Siapa Anda?" tanya Arini tajam, tanpa ekspresi, tak terpengaruh basa-basi. "Apa hubungan Anda dengan kasus palsu ayah angkat saya di tahun 1987?"
Pria tua itu tersenyum pahit, menempelkan telapak tangannya ke permukaan kaca.
"Nama saya mantan Jaksa Penuntut Agung yang menangani langsung kasus aliran dana taktis Mahkota tiga belas tahun yang lalu," ungkapnya lirih, matanya menerawang. "Saya dijebak oleh Harun atas perintah Sulaiman, lalu dijebloskan ke sel ini seumur hidup agar saya tidak bisa membuka mulut soal fakta sebenarnya."
Mata pria tua itu kembali menatap Arini dengan kedalaman rahasia yang menyakitkan. "Ayah angkatmu tidak pernah bersalah, Arini. Dia dipaksa menyerahkan diri dan dituduh sebagai kambing hitam penggelapan, karena H. Sulaiman ingin menyembunyikan sebuah rahasia yang jauh lebih mengerikan yang baru saja terbongkar di keluarganya... yaitu identitas asli darah dagingmu."
Arini terpaku. Kata-kata itu menghantam logikanya bagai palu godam.
Pria itu melanjutkan dengan nada bergetar, "Kamu bukanlah anak kandung dari sopir malang itu. H. Sulaiman Mahkota adalah ayah biologismu, Arini. Tiga belas tahun lalu, ibumu yang asli dibunuh secara keji oleh Herlina Mahkota dalam sebuah 'kecelakaan' lalu lintas yang sengaja diatur dan ditutupi oleh uang suap."
Jantung Arini berdegup brutal. Retakan hebat terjadi dalam jiwa reinkarnasinya.
"Untuk menyelamatkanmu dari amukan istri sahnya dan saudara-saudaramu yang haus darah, Sulaiman diam-diam menitipkanmu secara rahasia pada pasangan sopir dan pembantu rumah tangganya," lanjut mantan Jaksa itu dengan air mata tertahan. "Sebelum akhirnya Sulaiman menumbalkan nyawa sopir itu dengan jeratan kasus hukum, agar rahasia tentang dirimu terkubur selamanya di paviliun belakang."
Pengkhianatan pamungkas ini—fakta bahwa wanita yang selama ini ia panggil "Bibi Herlina" adalah pembunuh ibu kandungnya, dan pria tua kejam di atas kursi roda itu adalah ayah biologisnya sendiri—benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasan dan kemanusiaan Arini. Retcon garis waktu ini meluluhlantakkan jiwanya.
Tepat pada detik rahasia itu terbuka, alarm darurat Lapas Cipinang berbunyi melengking nyaring, memekakkan telinga.
Tiga orang petugas sipir bersenjata laras panjang merangsek masuk dengan kasar ke ruang kunjungan, langsung memelintir lengan pria tua itu tanpa peringatan.
"Waktu kunjungan habis! Mundur! Ada perintah pemindahan tahanan isolasi secara darurat dari atas!" teriak kepala sipir tersebut garang.
Meski diseret paksa dari kursinya, pria tua itu meronta hebat dan mendekatkan bibirnya ke gagang telepon, meneriakkan kalimat terakhirnya.
"Arini! Cari bukti tabrakan pembunuhan ibumu! Temukan slip laporan pengamanan polisi yang asli... slip itu disembunyikan oleh ayah angkatmu di dalam kaleng biskuit tua miliknya!"
Kata-katanya terputus drastis saat seorang sipir membekap mulutnya dengan pentungan, menyeret tubuh tuanya menghilang di balik pintu besi kelabu.
Arini berdiri mematung sendirian di bilik kunjungan. Ia menatap ngeri ke arah kaca pembatas yang kini kosong. Di keheningan jiwanya, suara sirine darurat penjara yang meraung-raung seakan menjadi alunan soundtrack dari awal mula pembalasan dendamnya yang paling gelap, membakar jembatan yang tak bisa kembali.