Episode 8: Membakar Jembatan
Chapter 4: Umpan Beracun "Delta Swadaya Kapital"
Lokasi: Restoran Jepang Kebayoran Baru & Kantor Garam Capital
Waktu: Esok Harinya
Arini tak memberi ruang napas. Ia langsung tancap gas melancarkan serangan destruktif berikutnya. Target utamanya kini bergeser: Bibi Herlina Mahkota.
Herlina adalah anak perempuan H. Sulaiman yang memegang kendali penuh atas jaringan ritel raksasa dan Departement Store Mahkota. Lini bisnis ritel ini adalah urat nadi penyumbang kas tunai (uang basah) terbesar bagi keluarga Mahkota. Namun, bisnis ini sedang dalam kondisi rentan karena tergerus oleh pasar akar rumput yang diciptakan Arini.
Dalam sebuah manuver senyap yang terkoordinasi, Bimo mengatur pertemuan setengah rahasia dengan asisten kepercayaan Bibi Herlina di sebuah restoran Jepang private di kawasan Kebayoran Baru. Sesuai instruksi Arini, Bimo pura-pura terburu-buru dan dengan ceroboh 'meninggalkan' sebuah dokumen proyeksi rahasia mengenai transaksi "Repurchase Agreement" (Repo) saham di atas meja usai makan siang.
Sebagai inkarnasi Sekar yang datang dari masa depan, Arini sangat memahami kelemahan psikologis fundamental para konglomerat tamak di Bursa Efek Jakarta tahun 2000. Mereka memiliki kegemaran fatal dan serakah: menggadaikan saham perusahaan inti mereka ke broker, demi mendapatkan modal cepat untuk berjudi pada saham lapis ketiga yang sedang 'digoreng' oleh bandar.
Arini memanfaatkan sebuah emiten "saham gorengan" tak bernilai bernama PT Delta Swadaya Kapital Tbk (DSK). Melalui belasan akun anonim, Garam Capital secara agresif memompa naik harga saham DSK di bursa setiap hari, memoles laporannya membuatnya seolah-olah terlihat akan segera diakuisisi oleh asing.
Dua hari setelah insiden "dokumen tertinggal" itu, telepon di meja kerja Arini berdering.
"Umpan beracunnya ditelan bulat-bulat, Arini," lapor Bimo dengan nada tak percaya dari ujung telepon, memantau chart bursa. "Bibi Herlina panik luar biasa butuh dana tunai setelah Tuan Besar mengumumkan syarat suksesi baru. Demi membuktikan kemampuannya mencari cash cepat, dia nekat menarik habis dana operasional cadangan Departemen Store Mahkota sebesar 500 miliar rupiah!"
"Lalu?" tanya Arini tenang sambil menyeruput kopinya.
"Lalu, karena uang itu belum cukup, dia menggadaikan (Repo) kepemilikan saham ritel mayoritasnya ke sekuritas bayangan yang berafiliasi dengan kita. Dia menggunakan seluruh uang pinjaman berisiko itu untuk memborong saham Delta Swadaya di pucuk harga tertinggi! Dia pikir bisa melipatgandakan asetnya dalam dua minggu dengan membocorkan rahasia kita."
Arini berjalan menuju dinding kaca balkon kantornya, menatap puncak Menara Mahkota yang bersinar angkuh di kejauhan kota.
"Biarkan dia terus membeli dengan pongah dan bersorak kegirangan malam ini, Bimo," perintah Arini dengan suara sedingin baja. "Besok pagi di sesi pertama bursa, perintahkan tim trader kita untuk membanjiri pasar. Dumping (jual rugi) semua saham Delta Swadaya secara brutal. Hajar terus harganya ke titik terendah hingga ARB (Auto Reject Bawah) berhari-hari berturut-turut. Begitu harganya hancur jadi abu, Herlina akan terkena Margin Call (tagihan paksa) dari broker. Dan karena dia sudah kehabisan uang kas untuk membayar... otomatis, seluruh kepemilikan saham Departemen Store Mahkota miliknya yang dijaminkan... jatuh disita ke tangan kita secara legal."