Kembali ke Daftar Isi

Episode 8: Membakar Jembatan

Chapter 3: Pesta Pernikahan dan Hadiah dari Garam Capital

Lokasi: Balai Sidang Jakarta (JCC)
Waktu: Dua Minggu Setelah Kecelakaan

Dua minggu setelah malam kecelakaan maut itu, seolah tak terjadi apa-apa, atmosfer kemewahan yang memuakkan memenuhi Balai Sidang Jakarta.

Pernikahan Haikal Mahkota (putra sulung Bambang) dengan putri seorang mantan menteri Orde Baru digelar dengan sangat masif dan megah. Tamu-tamu VIP, pengusaha, jenderal, dan elit politik menyesaki ballroom.

Di atas panggung pelaminan, Bambang Mahkota berdiri dengan dada membusung bangga di sebelah besannya. Ia sangat yakin bahwa aliansi politik-bisnis melalui pernikahan ini akan secara otomatis mengunci posisi Haikal sebagai pewaris tunggal, mengukuhkan kembali supremasi hukum tak tertulis faksi anak sulung untuk memimpin Mahkota.

Haikal Mahkota tersenyum sangat arogan sambil menyalami para tamu kehormatan.

Namun, senyum congkak itu mendadak luntur, membeku kaku di wajahnya saat matanya menangkap sesosok wanita yang berjalan melenggang anggun melewati pintu utama gedung.

Arini datang.

Ia sama sekali tidak terlihat seperti korban kecelakaan maut yang tulang rusuknya retak. Arini mengenakan setelan blazer beludru hitam pekat berpotongan tajam, terlihat sangat kontras, intimidatif, dan mencolok di tengah dekorasi ruangan pernikahan yang serba putih suci. Di lehernya, bekas luka goresan pecahan kaca mobil ditutupi dengan sangat elegan oleh sehelai syal sutra.

Ia melangkah tanpa cela, membelah lautan kerumunan tamu VIP layaknya seorang ratu yang baru saja menaklukkan kerajaan kematian.

Saat berpapasan tepat di bawah anak tangga pelaminan, Arini mendongak. Ia menatap lurus ke arah mata Haikal Mahkota yang terbelalak tak percaya. Arini lalu menarik senyuman tipis yang sangat mematikan.

"Selamat atas pernikahanmu yang megah ini, Haikal," ucap Arini. Suaranya tenang, diucapkan dengan volume sedang, namun bergema dingin hingga membuat bulu kuduk keluarga Mahkota di sekitarnya berdiri. "Oh, dan sebagai kado pernikahan... aku ingin memberitahu bahwa aku baru saja menandatangani kontrak eksklusif triliunan rupiah dengan Grup Bintang pagi ini."

Arini memiringkan kepalanya sedikit. "Seluruh slot logistik digital di Kawasan Media Terpadu (KMT) milik Garam Capital kini sudah terisi penuh. Jadi, upaya blokade dan boikot logistik dari pelabuhan kumuh yang kamu dan kakekmu jalankan kepadaku tempo hari... resmi menjadi sampah yang tidak berguna."

Wajah Haikal Mahkota seketika memerah padam. Urat lehernya menonjol, tangannya mengepal keras. Giginya bergeletuk menahan amuk yang tak bisa ia lampiaskan di depan ribuan tamu undangan dan kilatan blitz kamera jurnalis. Ia telah gagal membunuh Arini, dan kini bisnisnya dihancurkan di depan matanya sendiri.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Arini memutar tubuhnya dan berjalan pergi dengan langkah gemulai meninggalkan panggung pelaminan, meninggalkan kehancuran mental dan kekalahan absolut bagi sang pengantin pria.