Kembali ke Daftar Isi

Episode 8: Membakar Jembatan

Chapter 2: Singa Tua yang Mulai Lupa

Lokasi: Kamar Rahasia Istana Mahkota
Waktu: Pagi Hari yang Sama

Sementara musuhnya sedang menyusun rencana pembalasan dendam dari atas kursi roda rumah sakit, di dalam kamar rahasia Istana Mahkota, kondisi H. Sulaiman juga sedang menuju kehancuran total.

Sang Raja Tua berjalan mondar-mandir dengan ritme langkah yang tidak lagi stabil. Tubuhnya tiba-tiba membeku di depan cermin besar. Matanya membelalak lebar menatap bayangannya sendiri, dipenuhi kepanikan dan kebingungan yang sangat asing bagi dirinya. Tangannya meraba wajahnya yang keriput.

"Harun!" teriak Sulaiman, suaranya parau dan bergetar hebat.

Harun muncul dengan sigap dari balik pintu jati, berjaga di luar. "Ya, Tuan Besar?"

H. Sulaiman menatap pengawal setianya dengan raut wajah putus asa, napasnya memburu.

"Harun... siapa... siapa nama perempuan muda yang kemarin malam berdiri menantang di depan meja kerjaku? Putri pelayan yang tinggal di paviliun belakang itu... siapa namanya?!" bentak Sulaiman panik sambil memukul kepalanya pelan. "Kenapa aku tidak bisa mengingat wajah bajingan itu?!"

Harun tertegun ngeri menatap tuannya. Penyakit penyumbatan pembuluh darah otak (vaskular dementia) yang diidap sang Patriark ternyata agresif. Penyakit itu merusak sistem memori Sulaiman jauh lebih cepat dari perkiraan pesimistis dokter mana pun. Sang Raja Tua mulai kehilangan ingatan dasarnya, bahkan melupakan sosok musuh terbesar yang mengancam dinastinya saat ini.

"Namanya Arini, Tuan Besar," jawab Harun dengan suara lirih.

"Ah, ya... Arini. Benar... anak sopir kurang ajar itu. Dia sangat berbahaya," gumam Sulaiman linglung, mencoba menggenggam sisa ingatannya. Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram pegangan tongkat peraknya demi menopang tubuhnya yang nyaris rubuh.

"Dengar, Harun... Bambang dan Hendrawan Mahkota sama sekali tidak boleh tahu bahwa otakku mulai membusuk," bisik Sulaiman tajam. "Kalau anak-anakku tahu, mereka akan langsung saling menggorok leher lebih awal sebelum kerajaan ini sempat diselamatkan."

Sulaiman menarik napas berat, matanya menyipit kelam memancarkan kekejaman instingtif meski logikanya memudar. "Percepat pengumuman suksesi penuh. Biarkan anjing-anjing itu saling menghancurkan dan membunuh Arini. Kita sisakan yang paling berdarah dingin di antara mereka untuk memimpin singgasana ini."