Kembali ke Daftar Isi

Episode 8: Membakar Jembatan

Chapter 1: Sisa Napas di Aspal Basah – Cikini, Tahun 2000

Lokasi: Jalanan Cikini & Ruang ICU Rumah Sakit
Waktu: Malam Kecelakaan hingga Pagi Hari

Suara desing statis dari radio mobil yang rusak perlahan memudar, tenggelam oleh raungan nyaring sirine ambulans yang membelah malam basah Jakarta. Di atas aspal kawasan Cikini yang diguyur hujan lebat, mobil Volvo merah milik Arini yang ringsek parah akibat dihantam truk kontainer misterius mulai dikerumuni oleh warga sekitar.

Di dalam kabin yang hancur, Arini terjepit tak berdaya. Napasnya dangkal. Di ambang batas maut, kesadarannya perlahan melayang, seolah tertarik keluar dari tubuhnya yang remuk.

Di antara hidup dan mati, memori Arini sebagai Sekar dari masa depan berputar dengan sangat cepat. Ia melihat dirinya dalam kehidupan aslinya di masa depan—saat ia masih menjadi Sekar si fixer—sedang membuka arsip mikrofilm berisi tumpukan koran lawas tahun 2000 di Perpustakaan Nasional.

Di sana, matanya tertuju pada sebuah berita kecil di halaman kriminal yang berbunyi: "Kecelakaan Tragis di Cikini: Saksi Kunci Skandal Aliran Dana Sawit 1987 Tewas Sebelum Bersaksi."

Sekar di masa kini tersentak ngeri di dalam alam bawah sadarnya.

"Arini di kehidupan sebelumnya mati malam ini... Ini bukan kecelakaan biasa! Ini adalah operasi pembunuhan berencana yang sudah ditutupi sejak tiga belas tahun lalu!"

Klik! Mata Arini terbuka paksa, terengah menarik napas dalam.

Ia terbangun di atas ranjang ruang ICU yang terang dan dingin, dengan selang oksigen melekat di hidungnya. Rasa sakit luar biasa langsung menyergap sekujur tubuhnya bagai ditusuk ribuan jarum.

Di samping ranjang, Bimo berdiri dengan wajah pucat pasi. Jas dan kemejanya terlihat kusut berantakan, masih menyisakan noda bercak darah Arini yang belum sempat ia bersihkan karena berjaga semalaman penuh.

"Syukurlah... kau selamat, Arini," bisik Bimo dengan napas yang berangsur lega. "Untung benturan terbesar truk itu tertahan oleh pilar beton pembatas jalan."

Arini mencoba berbicara, tenggorokannya terasa kering seperti amplas. "Sopir... truknya?"

"Kabur melarikan diri tanpa jejak," jawab Bimo muram. "Pelat nomornya palsu. Dan masalahnya bukan cuma itu. Malam ini juga, preman-preman tak berseragam dari faksi Bambang Mahkota sudah mulai menaruh 'penjaga' di koridor depan rumah sakit ini. Mereka memastikan kau tidak keluar hidup-hidup."

Arini memaksakan diri untuk bergerak duduk meski rasa ngilu menyerang tulang rusuknya yang retak. Tatapan matanya yang lelah kembali mengeras, memancarkan dendam sedingin es.

"Mereka panik karena pesan singkat sialan itu, Bimo," desis Arini pelan. "Siapa... siapa yang berani mengirimiku pesan rahasia tentang Cipinang?"

Bimo menggelengkan kepalanya. "Nomor prabayar sekali pakai, tidak bisa dilacak. Tapi, sebelum kecelakaanmu terjadi semalam, aku sempat memverifikasi manifes hulu sawit Mahkota tahun 1987 yang asli melalui jaringanku di kejaksaan lama."

Bimo menatap Arini dengan raut prihatin yang mendalam, ragu-ragu menyampaikan fakta ini. "Arini... dokumen yang kamu lihat di dalam brankas Tuan Besar Sulaiman itu... sebagian besarnya adalah produk rekayasa hukum (fabricated evidence). Ayah angkatmu sama sekali tidak pernah mengajukan diri secara sukarela menjadi kambing hitam."

"Lalu kenapa ia menyerahkan diri?!"

"Dia diancam untuk mengaku bersalah, Arini. Dan alat ancamannya adalah nyawamu... yang saat itu masih berusia sepuluh tahun."

Arini mencengkeram sprei putih rumah sakit kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang teramat absolut. H. Sulaiman tidak hanya menumbalkan ayah angkatnya secara keji, tetapi bajingan tua itu sengaja menyusun narasi dokumen palsu bertahun-tahun kemudian, meletakkannya di dalam brankas rahasia, semata-mata untuk digunakan memanipulasi mental Arini di kemudian hari.

"Keluarkan aku dari rumah sakit ini sekarang juga, Bimo. Cari kursi roda, kita lewat pintu pembuangan limbah medis di belakang," perintah Arini dengan suara dingin yang mematikan. "Jangan sampai ada satu pun anjing Mahkota di koridor itu yang tahu aku sudah terbangun dari kematian."