Episode 7: Brankas yang Terkunci
Chapter 6: Ancaman di Bawah Guyuran Hujan
Lokasi: Pelataran Parkir Istana Mahkota & Jalanan Jakarta
Waktu: 23:00 WIB, Malam Hujan Deras
Di koridor luar ruang makan, Arini—yang malam itu dipaksa datang oleh Sulaiman hanya sebagai 'tamu pengamat' untuk mengintimidasi anak-anaknya—berdiri tenang. Ia bersandar di pilar marmer, menatap hujan deras yang mengguyur pelataran paviliun belakang.
Pintu ruang rapat terbuka kasar. Haikal Mahkota melangkah keluar dengan napas memburu. Begitu melihat Arini, ia langsung mempercepat langkah dan mengadang jalan gadis itu.
"Kau pikir dengan memegang sisa saham bank busuk itu kau bisa ikut bermain di level pewaris takhta, hah?! Dasar putri pembantu yang makan dari sisa ludah kami di paviliun belakang!" desis Haikal. Matanya memancarkan kebencian murni orang yang merasa haknya dirampok. "Kakek sengaja mengubah aturan suksesi sialan ini hanya untuk memancingmu keluar sarang, Arini. Dan begitu kau berani melangkah maju untuk mengklaim kursi itu... aku sendiri yang akan memastikan kau dan ayah kriminilmu membusuk bersama di dalam tanah selamanya!"
Arini sama sekali tidak mundur melihat postur Haikal yang tinggi besar dan mengancam. Ia menatap mata pria arogan itu, lalu justru melangkah maju menembus zona nyamannya, mendekatkan wajahnya untuk berbisik tajam.
"Papan catur keluarga ini sudah terlalu lama dikendalikan oleh para idiot... termasuk ayahmu dan dirimu, Haikal," bisik Arini dengan nada rendah yang mematikan. "Silakan ambil giliran pertamamu untuk menyerang kehidupanku. Karena di langkah ketiga... aku berjanji akan memastikan kepalamu yang jatuh duluan menggelinding di lantai ini."
Arini berbalik tajam, membelakangi Haikal yang mematung menahan murka, lalu berjalan menembus hujan menuju Volvo merahnya di area parkir yang sepi.
Namun, tepat saat ia menghidupkan mesin mobilnya, ponsel satelit di saku blazernya bergetar panjang. Sebuah pesan singkat dari nomor private (tidak dikenal) masuk.
Arini membuka lipatan ponselnya. Layar kuning kehijauan itu menampilkan sebuah pesan:
"Jangan percaya pada apa pun dokumen yang kau lihat di dalam brankas Tuan Besar. Ayah angkatmu sama sekali tidak bersalah atas kasus pencucian uang tahun 1987. Temui aku di sel Blok C Lapas Cipinang besok pagi... sebelum faksi Bambang Mahkota melenyapkan nyawanya malam ini."
Arini terpaku di balik kemudi. Jantungnya berdegup tak karuan bagai dipompa adrenalin murni, napasnya tertahan di tenggorokan. H. Sulaiman berbohong. Ayahnya benar-benar dijebak! Ia langsung menekan tombol speed dial ke nomor Bimo sambil menginjak pedal gas keluar dari gerbang Istana.
"Bimo! Angkat!" serunya panik begitu nada sambung terdengar. Hujan menghantam kaca depannya dengan brutal. "Cari tahu sekarang siapa jaksa atau petugas sipir yang memegang manifes hulu sawit Mahkota tahun 1987..."
Brakkk!!!
Belum sempat Arini menyelesaikan kalimatnya, dari arah persimpangan jalanan aspal yang basah dan gelap, sebuah truk kontainer raksasa tanpa lampu depan menyala melaju kencang menerobos lampu merah.
Moncong besi tebal truk itu menghantam keras tanpa ampun bagian samping kanan Volvo Arini.
Hantaman itu membuat mobil kecil tersebut terpental ke udara, berputar hebat, lalu terguling berkali-kali di atas aspal dengan suara decitan logam robek dan pecahan kaca yang mengerikan.
Layar dunia menggelap seketika bagi Arini.
Mobil itu terbalik dengan atap ringsek. Suara statis radio mobil berbunyi mendesis lirih di tengah kesunyian malam yang dicekam hujan. Tangan Arini yang berlumuran darah segar terkulai lemah dari sela jendela yang pecah. Napasnya perlahan mereda, menipis di balik kemudi yang hancur, sementara truk pembunuh itu kembali melaju hilang ditelan gelapnya malam.