Kembali ke Daftar Isi

Episode 7: Brankas yang Terkunci

Chapter 5: Pengumuman Suksesi yang Kejam

Lokasi: Ruang Makan Utama Istana Mahkota
Waktu: Malam Hari, Pascadiagnosis

Malam harinya, H. Sulaiman menggelar sebuah pertemuan keluarga besar secara mendadak. Seluruh keturunan langsung diwajibkan hadir di ruang makan utama Istana Mahkota yang berdinding panel kayu ukiran Jepara dan diterangi lampu gantung kristal raksasa.

Haikal Mahkota, sang cucu tertua dari faksi Bambang, baru saja dibebaskan bersyarat dari tahanan Kejaksaan berkat jaminan uang tebusan miliaran dan lobi politik kotor ayahnya. Ia masuk ke ruang makan dengan senyum lebar dan dada membusung, seolah ia pahlawan yang baru pulang perang, bukannya koruptor yang baru tertangkap tangan.

Di samping Haikal, berjalan calon istrinya dengan angkuh—putri dari seorang mantan menteri keuangan era Orde Baru yang masih memiliki sisa pengaruh birokrasi di kementerian. Di tangannya, Haikal memegang hasil tes medis kesuburan dokter yang ia pamerkan sebagai simbol bahwa garis keturunan sah dari faksi sulung telah siap melanjutkan darah murni takhta Mahkota secara absolut.

Namun, harapan arogansi itu dihancurkan malam itu juga oleh sang pencipta.

H. Sulaiman yang sedari tadi duduk diam bagai patung lilin di ujung kepala meja panjang, tiba-tiba berdiri. Ia bertumpu sangat berat pada tongkat peraknya, menahan tremor di lengannya. Suara baritonnya menggema dingin, membekukan tawa kesombongan Haikal seketika.

"Mulai malam ini... saya menghapus secara permanen aturan hak keturunan anak sulung dalam suksesi kepemimpinan Mahkota Grup!" ujar H. Sulaiman tegas tanpa berkedip.

Pernyataan itu meledak seperti granat di tengah ruangan. Wajah Bambang Mahkota dan istrinya pucat pasi.

Sulaiman menatap lurus ke arah anak-anak dan cucunya bergantian, matanya berkilat bak elang kelaparan yang siap memangsa.

"Grup Mahkota sedang berdarah di bursa saham dan di pelabuhan. Kerajaan ini tidak akan diselamatkan atau diserahkan berdasarkan urutan lahir yang beruntung, apalagi kedekatan darah yang tidak berguna!" bentak Sulaiman memukul meja.

"Dengar baik-baik. Siapa pun di antara kalian—Bambang, Hendrawan, Haikal... atau bahkan anak liar di luar sana—yang bisa membuktikan diri mampu membunuh likuiditas Garam Capital, merebut kembali dominasi logistik Pantura, dan mengembalikan nyawa Bank BAM... dia, dan hanya dia, yang berhak mewarisi seluruh seratus persen sisa saham utama saya."

Ruangan seketika senyap bagai kuburan yang baru digali.

Bambang Mahkota dan Hendrawan Mahkota, dua saudara kandung yang sedari tadi duduk berseberangan, perlahan saling melempar tatapan penuh permusuhan. Di titik itu, tak ada lagi ikatan persaudaraan.

Sementara itu, Haikal Mahkota mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah taplak meja. Wajahnya memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak karena hak kelahirannya dan uang suap yang ia keluarkan baru saja dirampas dan dibuang ke tempat sampah oleh kakeknya sendiri.