Episode 7: Brankas yang Terkunci
Chapter 4: Rahasia di Kamar Dokter
Lokasi: Ruang Pemeriksaan Klinik Swasta, Menteng
Waktu: Siang Hari, Berbarengan dengan Kekalahan Logistik Mahkota
Di saat kerajaannya sedang dirobek-robek secara sistematis dari akar rumput, sebuah ketegangan yang jauh lebih mematikan sedang terjadi di sisi lain ibu kota.
Di dalam sebuah ruang pemeriksaan klinik saraf eksklusif berarsitektur mewah di daerah Menteng, H. Sulaiman duduk mematung di kursi pasien. Tangannya mencengkeram erat gagang tongkat peraknya. Ia menatap tajam ke arah dokter profesor pribadinya yang tampak pucat pasi dan berkeringat dingin.
Di layar light box yang terang benderang di dinding, menempel selembar hasil pemindaian MRI otak Sulaiman. Gambar itu menunjukkan titik-titik lesi kelabu (penyumbatan) yang menyebar mematikan.
Sang dokter spesialis menelan ludah, tidak berani menatap langsung mata pasiennya.
"Hasilnya... menunjukkan adanya penyumbatan pembuluh darah otak kronis, Tuan Besar," jelas sang dokter dengan suara bergetar pelan. "Vaskular dementia. Penyakit ini mulai mengikis daya kognitif, sel-sel ingatan memori, dan perlahan fungsi motorik Anda... secara permanen."
"Berapa lama lagi... aku bisa berpikir cukup jernih untuk memimpin perang ini?" tanya Sulaiman tanpa ekspresi, suaranya sangat dingin menolak menunjukkan kelemahan secuil pun, walau ia tahu ia sedang divonis mati pelan-pelan.
"Enam bulan. Maksimal, Tuan Besar," jawab dokter itu sambil menunduk. "Setelah melewati batas itu... gejalanya akan mulai overlap. Anda akan kesulitan mengenali orang, dan itu tidak mungkin lagi disembunyikan dari rapat dewan direksi pemegang saham."
H. Sulaiman mengambil sebatang pena di atas meja kaca dan mencoba memaksa tangannya menulis namanya sendiri (signature persetujuan medis) di secarik kertas resep. Tangannya bergetar tak terkendali. Huruf-huruf yang ia tulis tercampur aduk tak beraturan.
Ia menyadari dengan getir bahwa kebelakangan ini ingatannya mulai sering melompat-lompat menembus dimensi waktu tanpa kendali; kadang saat bangun tidur ia merasa seolah masih berada di puncak kejayaan Orde Baru di tahun 1987.
Ketakutan terbesar H. Sulaiman bukanlah pada kematian biologis. Setan dalam dirinya telah lama bersiap untuk itu. Ketakutan terbesarnya adalah mati dalam kondisi pikun tak berdaya sebelum ia menunjuk suksesor tiran yang layak, yang bisa mengamankan takhta kerajaan sebelum disita oleh Arini.
Ia memutuskan untuk merahasiakan penyakit mematikan ini dari anak-anak sahnya sendiri—Bambang dan Hendrawan. Sulaiman tahu betul tabiat iblis putra-putranya. Jika mereka tahu ayahnya akan jadi mayat hidup dalam 6 bulan, mereka pasti akan saling menggorok leher lebih awal dan membelah Mahkota demi memperebutkan sisa saham.