Episode 7: Brankas yang Terkunci
Chapter 1: Kamar Rahasia Istana Mahkota – Jakarta, 2000
Lokasi: Ruang Kerja H. Sulaiman
Waktu: 21:20 WIB (Menyambung Ketegangan Sebelumnya)
Pemadaman listrik yang mendadak membuat ruang kerja H. Sulaiman gelap gulita. Jantung Arini berdegup kencang mengantisipasi bahaya tembakan. Insting survival-nya bangkit seketika, namun ia tak sedikit pun beringsut mundur atau memohon ampun dari posisinya.
Detik berikutnya, terdengar bunyi klik mekanis yang sangat keras. Lampu darurat berbahan bakar genset menyala, menyapu kegelapan ruangan dengan cahaya kuning remang.
Sosok yang melangkah dari arah koridor rahasia belakang rak buku itu ternyata bukanlah pembunuh bayaran murahan. Ia adalah Harun, pria bertubuh kekar berwajah dingin yang merupakan mantan kepala keamanan Istana Mahkota. Harun memegang sebuah senjata api laras pendek, membidikkannya tepat ke dada Arini. Ia segera menurunkannya setelah mengenali situasi dan mendapat anggukan isyarat dari Sulaiman.
H. Sulaiman terengah-engah di kursi rodanya. Seringai tipis di wajah rentanya kini berubah menjadi batuk kering yang menyiksa hingga tubuhnya terguncang.
"Harun," desis sang Raja Tua di sela batuknya sambil menunjuk ke dinding. "Tunjukkan pada anak pelayan yang sombong ini... apa yang tidak pernah tercatat di laporan bursa sahamnya."
Tanpa banyak bicara, Harun melangkah menuju dinding kayu jati dan memutar sebuah bingkai lukisan Affandi tua bernilai miliaran rupiah. Di baliknya, tersembunyi sebuah pintu brankas baja kuno berukuran raksasa, tanpa panel angka digital. Dengan kombinasi putaran roda gigi mekanik yang rumit, pintu baja setebal 20 sentimeter itu terbuka mengeluarkan suara engsel yang berat.
Harun menyingkir. Di dalam brankas gelap itu, tersimpan setumpuk emas batangan, sebuah Buku Besar Akuntansi Ganda milik Bank BAM bertarikh tahun 1987, serta sebuah berkas usang bersampul merah pudar dengan stempel garuda "SANGAT RAHASIA" dari Kejaksaan Agung masa Orde Baru.
Arini melangkah maju dengan hati-hati. Ia mengambil berkas usang tersebut dan membukanya. Saat matanya menyapu barisan kalimat dakwaan di dalamnya, pandangannya mendadak kabur. Kepalanya berdenyut hebat. Kesadarannya seolah ditarik paksa menembus lorong waktu.
Ia kembali melihat kilasan malam berhujan deras di tahun 1987, saat tubuh remajanya tertidur di paviliun. Dari celah pintu yang renggang, ia melihat ayah angkatnya—sang sopir pribadi yang setia—sedang menggenggam erat tangan ibu angkatnya yang menangis terisak.
"Ibu... Tuan Besar Sulaiman diancam disita seluruh bisnis sawit dan hartanya oleh aparat militer kalau kasus pencucian dana taktis ini sampai terbongkar ke permukaan," bisik ayah angkatnya dalam memori itu. "Hanya bapak yang namanya dicatat memegang kunci dokumen itu. Kalau bapak masuk penjara dan pasang badan jadi kambing hitam... Tuan Besar sudah berjanji di atas meterai akan menjamin pendidikan Arini sampai sarjana dan sukses. Ini satu-satunya cara, Bu. Agar anak kita tidak jadi pelayan seperti kita seumur hidup."
Kilasan memori itu memudar. Kesadaran Arini ditarik kembali ke ruang kerja H. Sulaiman yang pengap di tahun 2000.
Tanpa sadar, Arini mencengkeram kertas salinan dakwaan itu hingga remuk di tangannya. Jantungnya mencelos, dadanya terasa sesak seolah dihimpit beton. Ayah angkatnya tidak dijebak secara paksa seperti yang selama ini ia yakini; pria malang itu secara sukarela mengorbankan nyawanya dan membusuk di penjara demi masa depan Arini.
"Sopir itu sangat setia dan bodoh, Arini," ujar H. Sulaiman dengan nada dingin yang mengiris hati, menikmati raut shock di wajah Arini. "Buku ganda di dalam brankas ini adalah surat wasiat hukumnya. Jika kau berencana menghancurkan Mahkota sekarang menggunakan tangan jaksamu itu... buku ini akan otomatis menyala dan menyeret nama ayah angkatmu sebagai otak utama kejahatannya secara legal. Kau ingin membeliku? Silakan. Tapi kau harus siap mengubur pahlawanmu sendiri sebagai pengkhianat koruptor."