Kembali ke Daftar Isi

Episode 7: Brankas yang Terkunci

Chapter 2: Serangan Balik Lewat Jalur Distribusi

Lokasi: Pelabuhan Tanjung Priok & Kantor Garam Capital
Waktu: Beberapa Hari Kemudian

Arini keluar dari Istana Mahkota malam itu dengan kepalan tangan yang bergetar menahan amarah yang sangat mematikan. Ancaman psikologis dari Sulaiman mengenai ayahnya telah melewati batas toleransinya.

Namun, di pihak lain, H. Sulaiman membuktikan mengapa ia dijuluki sebagai Raja. Untuk menyerang balik algojo finansial sekelas Arini, ia tidak butuh pasukan bersenjata api atau preman bayaran. Ia menggunakan senjata pemusnah massal paling mematikan di negara kepulauan yang rakus impor: blokade kartel logistik laut.

Melalui sisa pengaruh oligarkinya yang masih mengakar pada asosiasi pedagang besar, preman pelabuhan, dan syahbandar tua korup, H. Sulaiman menginstruksikan embargo. Ia memerintahkan seluruh jaringan distribusi sembako untuk memboikot secara total operasional PT Samudra Logistik milik Arini.

Dampaknya langsung terasa menghantam kas Garam Capital bak tsunami. Kapal-kapal kargo pengangkut beras milik mereka mendadak tak bisa membongkar muatan. Kapal itu dibiarkan bersandar menumpuk berhari-hari di Pelabuhan Tanjung Priok karena izin berlayar dan bongkar-muat mereka dipersulit secara birokrasi, atau dihalangi oleh aksi mogok paksa buruh yang dibayar Mahkota.

Di kantor pusat Garam Capital, kepanikan tingkat tinggi mulai melanda staf investasi. Bimo mondar-mandir menatap layar monitor rute kapal dengan wajah tegang yang dibasahi keringat.

"Arini, ini bencana arus kas!" lapor Bimo frustrasi, melempar laporan operasional ke atas meja kaca. "Gudang-gudang transit kita di perbatasan sekarang penuh dengan puluhan ribu ton beras. Pasokan pangan kita mulai membusuk karena tidak ada truk atau kuli yang berani memindahkannya dari dermaga. Jika kondisi macet ini terus dipertahankan Sulaiman dalam dua minggu saja, kita akan kehabisan napas dan bangkrut menalangi biaya sewa kapal beserta denda pinalti pelabuhannya!"