Kembali ke Daftar Isi

Episode 6: Setumpuk Kartu di Bawah Meja

Chapter 7: Bayangan dari Masa Lalu

Lokasi: Ruang Kerja Rahasia H. Sulaiman
Waktu: 21:15 WIB (Menyambung Scene Sebelumnya)

H. Sulaiman menatap wajah Arini dengan napas yang tersengal-sengal. Di mata tuanya, terpancar campuran antara kemarahan yang mendidih membakar dada, dan kekaguman yang sangat mengerikan akan tingkat kecerdasan sosiopat gadis itu.

Namun, di tengah keputusasaannya kehilangan kerajaannya, perlahan sebuah seringai tipis yang ganjil dan sangat meresahkan muncul di bibir keriput sang Raja Tua. Seringai orang yang menyimpan satu kartu joker terakhir di tangannya.

"Kau pikir... kau sudah menang telak melawanku dengan merebut proyek pelabuhan utara dan merampas Bank BAM, Arini?" desis H. Sulaiman, diiringi suara batuk kering yang menyiksa paru-parunya.

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke mata Arini. "Kau memang pintar merampok uangku, Nak... tapi kau masih terlalu muda. Terlalu naif. Kau pikir uang adalah segalanya di rumah ini? Kau belum membuka brankas utama yang terkubur di bawah tanah Istana ini."

Arini mengerutkan kening, tidak suka dengan arah pembicaraan ini. "Brankas apa?"

Sulaiman tertawa serak. "Sesuatu yang dicuri oleh ayahmu... dari mejaku, lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Sebuah dosa yang membuat ia harus membusuk menanggung aib di dalam penjara seumur hidupnya, sementara kau dan ibumu dibiarkan hidup seperti anjing di paviliun belakang."

Mendengar kata 'ayahmu' dan 'dosa yang dicuri' dirangkai dengan nada penuh rahasia dan ejekan, jantung Arini berdegup kencang secara refleks. Ia tertegun. Otak reinkarnasi Sekar di kepalanya bekerja keras menyisir setiap lipatan memori masa depan yang ia miliki.

Tidak ada. Kosong. Mengapa ingatan Sekar di masa depan tidak memiliki catatan secuil pun tentang rahasia kelam ayah kandung Arini yang sebenarnya? Apakah ada potongan timeline sejarah Mahkota yang dimusnahkan secara absolut?

Tepat pada detik kebingungan Arini itu, lampu di seluruh ruang kerja mendadak padam total. Suasana berubah pekat dan luar biasa mencekam.

Di tengah kegelapan yang menyergap, terdengar suara ketukan langkah sepatu bot militer yang sangat berat mendekat perlahan dari arah koridor rahasia di belakang rak buku Sulaiman. Langkah itu stabil, dingin, tak bernyawa.

Disusul kemudian oleh suara nyaring besi dingin dari pelatuk senjata api laras pendek yang dikokang mantap—KLIK-KLAK—suaranya bergema memecah keheningan maut di ruang kerja itu, membidik tepat ke arah Arini dalam gelap.