Kembali ke Daftar Isi

Episode 6: Setumpuk Kartu di Bawah Meja

Chapter 6: Pembukaan Topeng di Kamar Rahasia

Lokasi: Ruang Kerja Rahasia H. Sulaiman
Waktu: 21:00 WIB, Malam Setelah Penangkapan Haikal

H. Sulaiman sangat syok melihat kehancuran nama baik Mahkota Konstruksi dan penangkapan cucu kesayangannya. Dengan intuisinya yang puluhan tahun memakan asam garam dunia hitam, sang Raja Tua menduga kuat bahwa firma investasi gila Garam Capital adalah dalang utama di balik sabotase pendanaan Nusantara Abadi dan operasi politik ini.

Tak bisa menunggu lebih lama, malam itu juga ia memerintahkan asisten pribadinya untuk memanggil Bimo menghadap kepadanya. Ia sudah menyiapkan pistol berperedam di laci mejanya jika Bimo menolak bekerja sama.

Pintu jati ruang kerja rahasianya berderit terbuka pelan.

Namun, bukan sosok Bimo dengan jas mahalnya yang melangkah masuk ke ruangan pengap itu.

Arini berdiri di ambang pintu, menutup pintu ganda itu di belakangnya dan menguncinya dari dalam. Ia tidak lagi mengenakan seragam pelayan katun murahan atau membawa nampan berisi teh hangat seperti biasanya. Malam itu, ia mengenakan blazer eksekutif hitam dengan potongan yang sangat tajam nan formal.

Ia melangkah perlahan, menatap pria tua yang duduk di kursi roda di balik meja mahoni itu dengan pandangan mata yang sedingin es abadi.

H. Sulaiman terbelalak lebar. Tangannya mencengkeram lengan kursinya dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih. Udara seolah tersedot habis dari paru-parunya.

"Kamu..." desis Sulaiman, suaranya parau dan terputus-putus. "Anak sopir gila yang selama ini tinggal di paviliun belakang rumahku... tidak mungkin. Bagaimana mungkin kamu, seorang pelayan, bisa memiliki uang untuk mendirikan Garam Capital dan merancang kehancuran sebesar ini?!"

Arini terus berjalan perlahan mendekati meja kerja kayu jati yang kokoh itu. Matanya tak lepas sedetik pun dari Sulaiman. Ia merogoh saku dalam jasnya, lalu mengeluarkan sebuah dokumen legal bercap timbul emas, menjatuhkannya tepat di depan wajah sang patriark.

Itu adalah dokumen notaris yang menyatakan bahwa 51% saham Garam Capital—yang kini menguasai sisa aset likuid Bank BAM dan pelabuhan Bumi Nusantara—adalah miliknya mutlak.

"Saya bukan lagi anak sopir miskin yang mengemis sisa makanan basi di dapur kotor Anda, Tuan Besar," ucap Arini dengan nada rendah yang menggema memantul di dinding ruangan sunyi itu. Sebuah deklarasi dari seorang pemburu yang berhasil menyudutkan mangsanya. "Saya adalah pemilik sah dari separuh nadi keuangan yang menghidupi dinasti Anda saat ini. Saya adalah dewa kematian bagi Mahkota."