Episode 6: Setumpuk Kartu di Bawah Meja
Chapter 5: Gempa Politik di Balai Kota
Lokasi: Balai Kota & Markas Mahkota Konstruksi
Waktu: Pagi Hari, H-1 Pengumuman Tender
Mita adalah peluru tajam yang tidak bisa ditarik kembali setelah pelatuknya ditarik. Berbekal bukti valid tak terbantahkan dari Arini, ia menyingkirkan keraguannya dan bergerak sangat cepat tanpa memberi ruang kompromi bagi atasannya.
Tepat satu hari sebelum jadwal pengumuman pemenang tender megaproyek Reklamasi Pantura Baru di Balai Kota, Kejaksaan Agung meledakkan bom waktu politik.
Dipimpin langsung oleh Mita, pasukan khusus anti-korupsi berseragam kejaksaan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di rumah dinas Kepala Dinas Tata Kota. Tak hanya menangkap birokrat korup tersebut beserta tumpukan kardus mi instan berisi miliaran rupiah tunai, tim Mita juga bergerak menyegel kantor Mahkota Konstruksi dan menyita seluruh server serta dokumen penawaran tender mereka.
Media massa langsung meledak histeris. Berita tentang skandal korupsi dan suap raksasa yang melibatkan dinasti Mahkota menghiasi headline seluruh stasiun televisi dan halaman utama surat kabar nasional di pagi buta. Wajah Haikal Mahkota yang digiring ke mobil tahanan terpampang jelas, menghancurkan reputasi keluarga itu hingga ke titik nadir.
Akibat besarnya tekanan publik dan kemarahan aktivis, Penjabat Gubernur yang ketakutan langsung mengambil langkah cuci tangan. Ia menggelar konferensi pers darurat dan membatalkan kelayakan Mahkota Konstruksi secara sepihak.
Hak kelola megaproyek reklamasi itu secara otomatis langsung jatuh dan dialihkan kepada pemenang tender kualifikasi kedua yang dikenal memiliki rekam jejak paling bersih: konsorsium PT Nusantara Abadi—yang pendanaannya sepenuhnya telah dikendalikan oleh Garam Capital.
Di ruang tahanan Kejaksaan yang sempit dan pengap, Haikal Mahkota menjerit murka seperti binatang buas yang tertangkap jaring. Ia menendang jeruji besi dan membanting nampan makannya, tak terima masa depan suksesi dan harga dirinya dipermalukan secara telak di tingkat nasional oleh seorang jaksa muda. Ia belum sadar, ada tangan lain yang jauh lebih mengerikan di balik semua ini.