Kembali ke Daftar Isi

Episode 6: Setumpuk Kartu di Bawah Meja

Chapter 4: Memasang Bidak "Kuda Hitam"

Lokasi: Kantin Sederhana, Sebelah Gedung Kejaksaan Agung
Waktu: 12:30 WIB

Alih-alih menyuap preman atau birokrat kotor untuk mengagalkan Mahkota seperti yang biasanya dilakukan fixer konvensional, Arini memilih jalan yang jauh lebih bersih namun sepuluh kali lebih mematikan.

Di sebuah kantin soto ayam yang panas di sebelah gedung Kejaksaan Agung, ia menemui Mita. Sahabat masa remajanya yang dulu ia temui di kantin FHUI itu, kini telah lulus dan resmi diangkat menjadi Jaksa Muda Republik Indonesia.

Siang itu, Mita sedang mengaduk es tehnya dengan raut wajah sangat frustrasi. Kasus korupsi yang sedang ia selidiki kembali dihambat, dipetieskan secara paksa oleh intervensi politik dari atasannya sendiri. Semangat reformasinya mulai memudar di hadapan tembok birokrasi korup yang masih tersisa.

Arini duduk di hadapan Mita. Tanpa mengucapkan sepatah kata penghiburan, Arini merogoh tasnya dan menggeser sebuah disket hitam tebal berlabel putih melintasi meja kayu yang basah oleh sisa kuah soto.

Mita menatap disket itu dengan dahi berkerut.

"Di dalam disket ini, ada rekaman audio sadapan beresolusi tinggi dan bukti print-out transfer aliran dana tunai taktis," bisik Arini, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Itu bukti uang suap bernilai belasan miliar dari Haikal Mahkota kepada Kepala Dinas Tata Kota untuk meloloskan proyek Reklamasi Pantura Baru secara sepihak."

Mita terkesiap. Napasnya tertahan. "Arini... ini..."

"Tangkap Kepala Dinasnya beserta seluruh barang bukti uangnya malam ini juga, Mita," potong Arini tajam. "Maka kamu akan memicu efek domino penyidikan yang cukup kuat untuk meruntuhkan seluruh perlindungan politik dan oligarki di belakang Mahkota."

Mita memungut disket itu seolah memegang granat aktif. Ia beralih menatap Arini dengan raut sangsi, curiga, sekaligus takjub.

"Dulu saat kuliah kamu memberiku bukti pengapalan ilegal. Sekarang bukti suap kepala dinas. Kenapa kamu terus memberikan amunisi sebesar ini padaku, Arini? Apa untungnya buatmu menyabotase tempatmu sendiri bekerja?" tanya Mita menyelidik.

Arini tersenyum sangat tipis, nyaris tak terlihat. Matanya menatap tajam menembus kacamata tebal sang jaksa muda.

"Karena hukum yang lurus dan idealisme saja tidak cukup. Keadilan membutuhkan taring yang tajam untuk bisa mengoyak daging para monster itu, Mita," jawab Arini lirih. "Dan tugasku di panggung ini... adalah memastikan taringmu selalu terasah."