Episode 6: Setumpuk Kartu di Bawah Meja
Chapter 3: Perebutan Proyek Reklamasi "Pantura Baru" – Tahun 2000
Lokasi: Balai Kota Jakarta & Markas Garam Capital
Waktu: Siang Hari, Tahun 2000
Waktu bergulir memasuki tahun 2000, membuka gerbang milenium baru yang dipenuhi ketidakpastian politik di era reformasi. Di saat Grup Mahkota sedang berusaha mati-matian bangkit dari sisa-sisa krisis, pemerintah daerah ibu kota mengumumkan sebuah megaproyek bernilai triliunan rupiah: Tender "Reklamasi Pantura Baru". Ini adalah rencana ambisius untuk menguruk laut dan membangun pusat bisnis serta pelabuhan modern terpadu di teluk utara Jakarta.
Proyek ini dipandang sebagai napas penyelamat (golden ticket) bagi konglomerasi mana pun yang bisa memenangkannya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Mahkota, faksi cucu mulai unjuk gigi ke permukaan. Haikal Mahkota—anak sulung dari Bambang Mahkota, yang dulu pernah difitnah oleh Arini di ruang kerja Sulaiman saat remaja—kini telah dewasa. Ia ditunjuk secara resmi untuk memimpin divisi Mahkota Konstruksi. Haikal memikul beban pembuktian yang berat; ia harus memenangkan megaproyek triliunan ini sebagai syarat mutlak suksesi pewaris takhta dari kakeknya.
Dengan gaya arogan dan instan yang mendarah daging dari didikan ayahnya, Haikal langsung menggunakan taktik kotor tradisional: menebar uang pelicin dalam jumlah fantastis dalam kardus-kardus mi instan. Ia menyuap pejabat-pejabat kunci di dinas tata kota untuk mengunci kemenangan tendernya sejak awal proses kualifikasi.
Namun, Haikal yang merasa di atas angin, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik bayangan, Garam Capital milik Arini diam-diam mulai bergerak memasang ranjau.
Alih-alih menyuap pejabat saingan, Arini justru menyuntikkan dana segar dalam jumlah masif dan legal ke PT Nusantara Abadi. Perusahaan konstruksi ini adalah pemain lokal lapis kedua yang dikelola oleh seorang mantan insinyur birokrat yang sangat idealis, dan selama puluhan tahun tersingkirkan oleh sistem lelang korup Orde Baru.
Di ruang rapatnya, Arini memonitor pendaftaran tender itu dengan senyum tipis. Ia sudah menyiapkan pion kuda hitamnya di atas papan.